Team Accelerated Instruction (TAI)


Team Accelerated Instruction (TAI)

Team Accelerated Instruction atau Team Assisted Individuallization (Slavin,Leavy,Maden,1986) memiliki persamaan dengan STAD dan TGT dalam penggunaan tim-tim pembelajaran empat anggota berkemampuan heterogen dan pemberian sertifikat untuk tim yang berkinerja tinggi.Bedanya bila STAD dan TGT menggunakan sebuah tatanan pengajaran tunggal untuk kelas,TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual.Disamping itu,bila STAD dan TGT diterapkan pada hampir semua kelas 3-4.

Pada TAI, siswa masuk dalam sebuah urutan kemampuan individual sesuai dengan hasil tes penempatan dan kemudian maju sesuai dengan kecepatannya sendiri.Pada umumnya,anggota tim bekerja pada unit-unit bahan ajar yang berbeda.Siswa saling memeriksa pekerjaan teman sesama tim dengan dipandu oleh lembar jawaban dan saling membantu dalam memecahkan setiap masalah. Tes unit akhir dikerjakan tanpa bantuan teman sesama tim dan diskor segera.

Karena siswa memiliki tanggung jawab untuk saling memeriksa pekerjaan mereka dan mengelola aliran bahan ajar,guru dapat menggunakan sebagian besar waktu pelajaran untuk mempresentasikan pelajaran kepada kelompok-kelompok kecil siswa yang berasal, dari berbagai tim yang sedang bekerja pada pokok bahasan yang sama pada urutan pelajaran matematika. Misalnya, guru dapat memanggil siswa-siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan desimal, mempresentasikan sebuah pelajaran tentang desimal, dan kemudian meminta siswa-siswa tersebut kembali ketim mereka untuk mengerjakan masalah desimal. Kemudian guru dapat memanggil siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan pecahan, dan seterusnya.

TAI memiliki dinamika motivasi sebanyak yang memiliki STAD dan TGT.Siswa terdorong dan saling membantu satu sama lain agar berhasil karena mereka ingin tim mereka berhasil. Tanggung jawab individual terjamin karena satu-satunya skor yang diperhitungkan adalah skor tes final, dan siswa mengerjakan tes tersebut tanpa bantuan teman sesama tim. Siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil karena semua siswa telah ditempatkan sesuai dengan tingkat pengetahuan awal mereka.

Bagaimana pun juga, individualisasi yang merupakan bagian dari TAI tersebut membuat TAI jelas berbeda dari STAD dan TGT. Dalam pelajaran hampir seluruh konsep dibangun diatas konsep sebelumnya. Bila konsep-konsep sebelumnya tersebut belum dikuasai, konsep-konsep berikutnya akan sulit atau tidak mungkin dipelajari seorang siswa yang tidak dapat mengurangi atau mengalilkan akan gagal memahami pembagian panjang,seorang siswa yang tidak memahami konsep-konsep pecahan akan gagal untuk memahami apakah suatu desimal itu,dan seterusnya. Dalam TAI, siswa bekerja pada kecepatan mereka sendiri, sehingga apabila mereka lemah dalam keterampilan-keterampilan prasyarat mereka, mereka terlebih dahulu dapat membangun sebuah landasan kuat berupa keterampilan prasyarat tersebut sebelum mereka belajar pokok bahasan lebih tinggi.

Iklan

Jigsaw II


Jigsaw II

Jigsaw II merupakan sebuah adaptasi dari teknik Jigsaw Elliot Aronson (1978). Dalam Jigsaw II,siswa bekerja dalam kelompok empat-anggota,yang sama dengan tim-tim heterogen seperti pada STAD dan TGT. Siswa ditugasi untuk membaca bab-bab atau buku-buku kecil,umumnya ilmu-ilmu sosial,biografi,atau materi lain yang bersifat memberi informasi. Setiap anggota tim secara acak ditugasi menjadi seorang “ahli” pada beberapa aspek dari tugas bacaan tersebut. Misalnya, dalam sebuah pokok bahasan tentang Mexico,seorang siswa pada tiap tim dapat menjadi ahli dalam sejarah, yang kedua dalam ekonomi, yang ketiga dalam geografi, dan yang keempat dalam budaya. Setelah membaca bahan tersebut, para ahli dari tim-tim yang berbeda bertemu untuk mendiskusikan topik mereka,dan kemudian kembali ke timnya untuk mengajarkan topik keahliannya kepada sesama teman anggota timnya sendiri. Akhirnya,ada sebuah kuis tentang seluruh topik tersebut. Penskoran dan penghargaan tim sama seperti pada STAD.

Teams-Games-Tournaments(TGT)


Teams-Games-Tournaments(TGT)

Teams-Games-Tournaments, yang mula-mula dikembangkan oleh David Devries dan Keith Edwards, merupakan model pembelajaran koperatif John Hopkins yang pertama. TGT menggunakan presentasi guru yang sama dan kerja tim seperti pada STAD, namun mengganti kuis dengan turnamen atau lomba mingguan. Dalam lomba itu siswa berkompetensi dengan anggota tim lain agar dapat menyumbangkan poin pada skor tim mereka. Siswa mengikuti lomba pada”meja-meja perlombaan”beranggotakan tiga orang melawan tim siswa lain dengan skor matematika yang terdahulu yang serupa. Pemenang pada tiap-tiap meja perlombaan memperoleh skor enam puluh bagi timnya, tanpa memandang dari meja mana kemenangan itu berasal, ini berarti siswa dengan hasil belajar rendah, dan siswa dengan belajar tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk berasil.Seperti halnya pada STAD, tim-tim berkinerja tinggi mendapat sertifikat.

TGT memiliki dinamika motivasi sebanyak yang dimiliki STAD, hanya bedanya ditambah dengan satu dimensi kegembiraan yang terjadi karena penggunaan permainan teman sesama tim saling membantu menyiapkan permainan itu dengan mempelajari LKS dan saling menjelaskan masalah-masalahnya satu sama lain, namun apabila para siswa sedang bertanding, teman sesama tim tidak dapat membantunya, dengan demikian terjamin tanggung jawab individual.bahan-bahan yang sama yang digunakanpada STAD juga digunakan pada TGT, bedanya kuis-kuis STAD digunakan sebagai permainan dalam TGT. Banyak guru lebih menyukai TGT karena kegiatan yang menyenangkan tersebut, sementara guru-guru lain lebih menyukai kooperatif STAD karena dianggap lebih murni, dan sejumlah guru yang lain menggabungkan dua model tersebut.

Students-Teams-Achievement- Divisions (STAD)


Students-Teams-Achievement- Divisions (STAD),

Dalam STAD siswa dikelompokan dalam tim-tim pembelajaran dengan 4-anggota, anggota tersebut campuran ditinjau dari tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku. Guru mempersentasikan sebuah pelajaran dan kemudian siswa bekerja didalam tim-timnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menuntaskan pelajaran itu. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis individual tentang bahan ajar tersebut, pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu.

Skor kuis siswa dibandingkan dengan rata-rata skor mereka yang lalu, dan pon diberikan berdasarkan seberapa jauh siswa dapat menyamai atau melampaui kinerja mereka terdahulu. Poin-poin ini kemudian dijumlah untuk mendapatkan sekor tim, dan tim-tim  yang memenuhi kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan lain.

STAD telah digunakan untuk setiap mata pelajaran dari kelas II sampai perguruan tinggi. STAD paling cocok untuk mengajarkan tujuan-tujuan yang terdefinisikan dengan jelas, seperti perhitungan dan penerapan matematika, penggunaan bahasa, mekanika, geografi, keterampilan membaca peta, dan konsep-konsep sains.

Ide utama di balik STAD adalah untuk memotivasi siswa saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang dipresentasikan guru. Bila siswa ingin tim mereka mendapat penghargaan tim mereka harus membantu teman satu tim dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Mereka harus memberi semangat teman satu timnya yang melakukan yang terbaik,menyatakan norma bahwa belajar itu penting,bermanfaat,dan menyenangkan. Siswa bekerja sama setelah guru mempresentasikan pelajaran. Mereka dapat mendiskusikan perbedaan yang ada,dan saling membantu satu sama lain saat menghadapi jalan buntu. Mereka dapat mendiskusikanpendekatan-pendekatanyang dipakai untuk memecahkan masalah,atau mereka dapat saling memberikan kuis tentang materiyang sedang mereka pelajari.mereka mengajar teman timnya dan mengakseskekuatan dan kelemahan mereka untuk membantu agar mereka berhasil dalam kuis tersebut.

Meskipun siswa belajar bersama, mereka tidak boleh saling membantu dalam mengerjakan kuis. Tanggung jawab Individual ini memotivasi siswa melakukan sebuah pekerjaan tutorial dengan baik dan saling menjelaskan satu sama lain, mengingat satu-satunya cara tim tersebut berhasil jika seluruh anggota tim telah menuntaskan informasi atau ketrampilan yang sedang dipelajarinya. Semua siswa berpeluang menjadi ”Bintang” pada suatu minggu tertentu,dengan cara memperoleh skor baik diatas skor terdahulu atau dengan skor sempurna.skor sempurna selalu menghasilkan poin maksimum tidak memandang berapapun rata-rata skor terdahulu siswa.

STAD lebih merupakan sebuah metode pengorganisasian kelas umum dari pada sebuah metode komprehensif pengajaran mata pelajaran tertentu ;guru menggunakan rencana pembelajarannya sendiri dengan bahan-bahan lain. Dinegara maju, lembar kegiatan siswa dan kuis tersedia untuk hampir seluruh mata pelajaran dari kelas III-IX, namun kebanyakan guru dapat menggunakan bahannya sendiri untuk melengkapi atau mengganti sama sekali bahan-bahan yang sudah tersedia.

Pembelajaran Kooperaktif


Pengertian Pembelajaran Kooperaktif

Model pembelajaran koperatif merupakan teknik-teknik kelas peraktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk membentu siswanya belajar setiap mata pelajaran. Dalam model pembelajaran koperaktif, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil saling membatu belajar satu sama lainnya. Kelompok-kelompok tersebut beranggotakan siswa dengan hasil belajar tinggi, rata-rata, dan rendah , laki-laki dan perempuan, siswa dengan latar belakang suku berbeda yang ada dikelas dan siswa penyandang cacat bila ada.
Model pembelajar koperaktif menciptakan sebuah revolusi pembelajaran di dalam kelas. Sehingga tidak ada sebuah kelas yang sunyi selama proses pembelajaran dan dapat kita ketahui bahwa pembelajaran yang terbaik di tengah-tengah percakapan di antara siswa. Dengan menciptakan suatu lingkungan kelas baru tempat siswa secara rutin dapat membantu satu sama lain guna menuntaskan bahan ajar akademiknya.
Pembelajaran tim siswa ( Student team learning ) merupakan sebuah perangkat tehnik pengajaran peraktis yang melibatkan siswa dalam kegiatan-kegiatan kopratif disekitar pembelajaran mata pelajaran sekolah ini merupakan tehnik-tenik yang dikembangkan dan diteliti di John Hopkins Universiti. Tehnik-tehnik tersebut merupakan alternatif bagi pengajaran tradisional yang dapat digunakan sebagai alat permanen bagi pengorganisasian kelas agar dapat mengajar secara efektif berbagai macam mata pelajaran pada setiap kelas mulai dari kelas 2 sekolah dasar sampai keperguruan tinggi. Model pembelajaran tim siswa bukan merupakan satu-satunya model pembelajaran koperaktif yang digunakan secara luas. Model tersebut bersama-sama dengan model pembelajaran koperaktif yang lain menerapkan ide bahwa siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab terhadap pembelajarn teman sekelompoknya serta bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri. 3 (tiga) konsep berikut ini merupakan kunci utama bagi seluruh model pembelajaran tim siswa : penghargaan tim, tanggung jawab individual, dan kesempatan yang sama untuk berhasil
1. penghargaan tim pembelajaran. Merupakan tim-tim yang dapat diberi sertivikat atau penghargaan tim –tim lainnya apabila mereka mencapai atau diatas keriteria yang diungkapkan.
2. tanggung jawab indivudaul berarti bahwa keberhasilan tim tersebut tergantung pada hasil pembelajarn individual dari seluruh anggota tim.
3. kesempatan yang sama untuk berhasil berarti bahwa siswa menyumbang kepada tim mereka dengan menyumbang kepada tim mereka dengan perbaikan tiatas kinerja meraka.

Model-Model Pembelajaran Kooperatif

Lima model pembelajar tim siswa telah dikembangkan dan diteliti secara luas. Terdapat tiga model pembelajaran kooperatif umum yang cocok untuk hampir seluruh mata pelajaran dan tingkat kelas : Students-Teams-Achievement- Divisions (STAD), Team-Games-Tournament (TGT), dan Jigsaw II. Dua yang lain merupakan kurikulum komprehensif yang dirancang untuk digunakan pada mata pelajaran tertentu pada tingkat kelas tertentu : cooperative integrative reading and compotian (CIRC) untuk pengajaran membaca dan menulis dikelas II – VIII dan Team Accelerativ Intrucstioan ( TAI) untuk matematika pada kelas III – VI. Model-model ini seluruhnya menerapkan penghargaan tim, tanggung jawab, dan kesempatan yang sama untuk berhasil, namun dilakukan dengan cara-cara berbeda.

Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Limbah Industri


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara latin yang gandrung memakai teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara maju (core industry) untuk pembangunan ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distorsi tujuan. Keadaan ini terjadi karena aspek-aspek dasar dari manfaat teknologi bukannya dinikmati oleh negara importir, tetapi memakmurkan negara pengekspor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadi konsumen dan ladang pembuangan produk teknologi karena tingginya tingkat ketergantungan akan suplai berbagai jenis produk teknologi dan industri dari negara maju Alasan umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran yang menyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomi dan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini didukung oleh itikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satu tahapan pembangunan ke tahapan pembangunan berikutnya.
Tetapi akibat tindakan penyesuaian yang harus dipenuhi dalam memenuhi  permintaan akan berbagai jenis sumber daya (resources), agar proses industri dapat menghasilkan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia, seringkali harus mengorbankan ekologi dan lingkungan hidup manusia. Hal ini dapat kita lihat dari pesatnya perkembangan berbagai industri yang dibangun dalam rangka peningkatan pendapatan (devisa) negara dan pemenuhan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia.
Disamping itu, iptek dan teknologi dikembangkan dalam bidang antariksa dan militer, menyebabkan terjadinya eksploitasi energi, sumber daya alam dan lingkungan  yang dilakukan untuk memenuhi berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari.
Pengertian dan persepsi yang berbeda mengenai masalah lingkungan hidup sering menimbulkan ketidak harmonisan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Akibatnya seringkali terjadi kekurang tepatan dalam menerapkan berbagai perangkat peraturan, yang justru menguntungkan perusak lingkungan dan merugikan masyarakat dan pemerintah.

 

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian tersebut diatas, tulisan ini secara khusus akan membahas permasalahan :

1)      Bagaimana kontribusi industri dan teknologi yang menyebar terhadap pencemaran lingkungan

2)      Bagaimana klasifikasi pencemaran lingkungan, dan

3)      Bagaimana menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan hidup.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep-Konsep Untuk Memahami Masalah Lingkungan Dan Pencemaran Oleh Industri
Seringkali ditemukan pernyataan yang menyamakan istilah ekologi dan lingkungan hidup, karena permasalahannya yang bersamaan. Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi.
Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Dari definisi diatas tersirat bahwa makhluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Dan, manusia sebagai makhluk yang paling unggul di dalam ekosistemnya, memiliki daya dalam mengkreasi dan mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi kebutuhan hidupnya.
Di alam terdapat berbagai sumber daya alam. yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya berbeda-beda, dimana dapat digolongkan atas :

-          Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable natural resources)

-          Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable natural resources).

Berbagai sumber daya alam yang mempunyai sifat dan perilaku yang beragam tersebut saling berinteraksi dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam dapat dibagi atas; (a). fisiokimia seperti air, udara, tanah, dan sebagainya, (b). biologi, seperti fauna, flora, habitat, dan sebagainya, dan (c). sosial ekonomi seperti pendapatan, kesehatan, adat-istiadat, agama, dan lain-lain.
Interaksi dari elemen lingkungan yaitu antara yang tergolong hayati dan non-hayati akan menentukan kelangsungan siklus ekosistem, yang didalamnya didapati proses  pergerakan energi dan hara (material) dalam suatu sistem yang menandai adanya habitat, proses adaptasi dan evolusi.
Dalam memanipulasi lingkungan hidupnya, maka manusia harus mampu mengenali sifat lingkungan hidup yang ditentukan oleh macam-macam faktor. Berkaitan dengan pernyataan ini, sifat lingkungan hidup dikategorikan atas dasar : (1). Jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut, (2). hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup tersebut, (3). kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup, dan (4). faktor-faktor non-materil, seperti cahaya dan kebisingan.
Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya, yang dapat mempengaruhi dan mempengaruhi oleh lingkungan hidupnya, membentuk dan dibentuk oleh lingkungan hidupnya. Hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya adalah sirkuler, berarti jika  terjadi perubahan pada lingkungan hidupnya maka manusia akan terpengaruh.
Uraian ini dapat menjelaskan akibat yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran lingkungan, terutama terhadap kesehatan dan mutu hidup manusia. Misalnya, akibat polusi asap kendaraan atau cerobong industri, udara yang dipergunakan untuk bernafas oleh manusia yang tinggal di lingkungan itu akan tercemar oleh gas CO (karbon monoksida).
Berkaitan dengan paparan ini, perlakuan manusia terhadap lingkungan akan mempengaruhi mutu lingkungan hidupnya. Konsep mutu lingkungan berbeda bagi tiap orang yang mengartikan dan mempersepsikannya secara sederhana menerjemahkan bahwa mutu lingkungan hidup diukur dari kerasannya manusia yang tinggal di lingkungan tersebut, yang diakibatkan oleh terjaminnya perolehan rejeki, iklim dan faktor alamiah lainnya yang sesuai.
Batasan ini terasa sempit, bila dikaitkan dengan pengaruh elemen lingkungan yang sifatnya tidak dikenali dan dirasakan, misalnya dampak radiasi baik yang disebabkan oleh sinar ultraviolet atau limbah nuklir, yang bersifat merugikan bagi kelangsungan hidup makhluk hidup.

B. INDUSTRI DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN

Jika kita ingin menyelamatkan lingkungan hidup, maka perlu adanya itikad yang kuat dan kesamaan persepsi dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup dapatlah diartikan sebagai usaha secara sadar untuk memelihara atau memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar kita dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya.
Memang manusia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap  lingkungannya, secara hayati ataupun kultural, misalnya manusia dapat menggunakan air yang tercemar dengan rekayasa teknologi (daur ulang) berupa salinisasi, bahkan produknya dapat menjadi komoditas ekonomi. Tetapi untuk mendapatkan mutu lingkungan hidup yang baik, agar dapat dimanfaatkan secara optimal maka manusia diharuskan untuk mampu memperkecil resiko kerusakan lingkungan.
Dengan demikian, pengelolaan lingkungan dilakukan bertujuan agar manusia tetap “survival”. Hakekatnya manusia telah “survival” sejak awal peradaban hingga kini, tetapi peralihan dan revolusi besar yang melanda umat manusia akibat kemajuan pembangunan, teknologi, iptek, dan industri, serta revolusi sibernitika, menghantarkan manusia untuk tetap mampu menggoreskan sejarah kehidupan, akibat relasi kemajuan yang bersinggungan dengan lingkungan hidupnya. Karena jika tidak mampu menghadapi berbagai tantangan yang muncul dari permasalahan lingkungan, maka kemajuan yang telah dicapai terutama berkat ke-magnitude-an teknologi akan mengancam kelangsungan hidup manusia.

  1. Dampak Industri dan Teknologi terhadap Lingkungan

Pentingnya inovasi dalam proses pembangunan ekonomi di suatu negara, dalam hal ini, pesatnya hasil penemuan baru dapat dijadikan sebagai ukuran kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa.
Dari berbagai tantangan yang dihadapi dari perjalanan sejarah umat manusia, kiranya dapat ditarik selalu benang merah yang dapat digunakan sebagai pegangan mengapa manusia “survival” yaitu oleh karena teknologi.
Teknologi memberikan kemajuan bagi industri baja, industri kapal laut, kereta api, industri mobil, yang memperkaya peradaban manusia. Teknologi juga mampu menghasilkan sulfur dioksida, karbon dioksida, CFC, dan gas-gas buangan lain yang mengancam kelangsungan hidup manusia akibat memanasnya bumi akibat efek “rumah kaca”.
Teknologi yang diandalkan sebagai instrumen utama dalam “revolusi hijau” mampu meningkatkan hasil pertanian, karena adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida. Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan berbagai jenis racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, bahkan akibat rutinnya digunakan berbagi jenis pestisida ataupun insektisida mampu memperkuat daya tahan hama tanaman misalnya wereng dan kutu loncat.
Teknologi juga memberi rasa aman dan kenyamanan bagi manusia akibat mampu menyediakan berbagai kebutuhan seperti tabung gas kebakaran, alat-alat pendingin (lemari es dan AC), berbagai jenis aroma parfum dalam kemasan yang menawan, atau obat anti nyamuk yang praktis untuk disemprotkan, dan sebagainya. Serangkai dengan proses tersebut, ternyata CFC (chlorofluorocarbon) dan tetra fluoro ethylene polymer yang digunakan justru memiliki kontribusi bagi menipisnya lapisan ozon di stratosfer.
 
Teknologi memungkinkan negara-negara tropis (terutama negara berkembang)  untuk memanfaatkan kekayaan hutan alamnya dalam rangka meningkatkan sumber devisa negara dan berbagai pembiayaan pembangunan, tetapi akibat yang ditimbulkannya merusak hutan tropis sekaligus berbagai jenis tanaman berkhasiat obat dan beragam jenis fauna yang langka.
Bahkan akibat kemajuan teknologi, era sibernitika yang mengglobal dapat dikonsumsi oleh negara-negara miskin sekalipun karena kemampuan komputer sebagai instrumen informasi yang tidak memiliki batas ruang. Dalam hal ini, jaringan Internet yang dapat diakses dengan biaya yang tidak mahal menghilangkan titik-titik pemisah yang diakibatkan oleh jarak yang saling berjauhan. Kemajuan teknologi sibernitika ini meyakini para ekonom bahwa  kemajuan yang telah dicapai oleh negara maju akan dapat disusul oleh negara-negara berkembang, terutama oleh menyatunya negara maju dengan negara berkembang dalam blok perdagangan.
Kasus Indonesia memang negara “late corner” dalam proses  industrialisasi di kawasan Pasifik, dan dibandingkan beberapa negara di kawasan ini kemampuan teknologinya juga masih terbelakang. Menurut PECC dalam laporannya  berjudul “Pacific Science and Technology Profit, menyimpulkan bahwa Indonesia dari segi pengeluaran R&D (Research and Design) sebagai persentase PDB, tergolong masih sangat kurang.
Selanjutnya, dipaparkan bahwa Indonesia bersama dengan Filipina berada di  peringkat terbawah, yaitu sekitar 0,12 persen saja untuk tahun 1987. Sedangkan Malaysia, Singapura dan Cina persentasenya mendekati 1 persen, di Korea mendekati 2 %, bahkan Amerika dan Jepang jauh diatas 2 persen.
Dari segi jumlah ilmuwan dan insiyur, Indonesia juga berada pada peringkat terbawah, yaitu hanya 4 orang per 10.000, dibandingkan dengan 15 orang di Korea, 18 orang di Taiwan, 23 orang di Singapura, 34 orang di Jepang dan 40 orang di Amerika. Berdasarkan data perbandingan tersebut, indikasi kebijaksanaan harus menitikberatkan perhatian yang lebih bagi upaya untuk mengkreasi penemuan-penemuan teknologi, melalui tahapan mempelajari proses akuisisi dan peningkatkan kemampuan teknologi yang telah dikuasai.
Seperti pengalaman negara-negara lain yang telah melalui berbagai tahapan  pembangunan sampai pada tahap industrialisasi, maka Indonesia juga mengandalkan teknologi dalam industrinya untuk memelihara momentum pembangunan ekonomi dengan tingkat pertumbuhan diatas 5 % pertahunnya
Masuknya teknologi ke Indonesia sudah dimulai sejak diundangkannya UUPMA (UU No. 1 tahun 1967, yang diperbarui dengan PP.No. 20 tahun 1994). Dengan dukungan UU tentang Hak Paten (Property Right) dan UU Perlindungan Hak Cipta (Intellectual Right), maka banyak perusahaan multinasional dan asing yang menggunakan, memakai dan mengembangkan teknologi dalam menghasilkan berbagai produk industri. Dalam hal merebaknya teknologi industri masuk ke Indonesia, dapat melalui : (a) Science agreement, (b). technical assistance and cooperation, (c). turnkey project, (d). foreign direct investment, dan (e). purchase of capital goods. Atau dalam bentuk equity participation dalam rangka joint operation agreement, know - how agreement, kontrak-kontrak pembelian mesin-mesin, trade fair dan berbagai lokakarya.
Sebagai salah satu negara berkembang yang banyak membutuhkan dana bagi pembiayaan pembangunan, maka Indonesia seringkali “dicurigai” melakukan eksploitasi sumber alamnya secara besar-besaran, karena dukungan kemajuan teknologi dan besarnya tingkat kebutuhan industri-industri yang berkembang pesat secara kuantitif dan berskala besar.
Berdasarkan hasil studi empiris yang pernah dilakukan oleh Magrath pada tahun 1987, diperkirakan bahwa akibat erosi tanah yang terjadi di Jawa nilai kerugian yang ditimbulkannya telah mencapai 0,5 % dari GDP, dan lebih besar lagi jika diperhitungkan kerusakan lingkungan di Kalimantan akibat kebakaran hutan, polusi di Jawa, dan terkurasnya kandungan sumber daya tanah di Jawa.
Masalah prioritas model teknologi (iptek) apakah kompetitif (competitive) atau komparatif (comparative), teknokrat yang diwakili Widjojo Nitisastro cs dan Sumitro Djojohadikusumo, mengurutnya atas dasar teknik Delphi. Sedangkan B. J. Habibie (Dewan Riset Nasional) merangkainya dengan konsep matriks.
Terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan yang disumbangkan oleh teknologi dan sektor industri di Indonesia, sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumber daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan, khususnya pada kota-kota yang sedang berkembang seperti Gresik, Surabaya, Jakarta, Bandung Lhoksumawe, Medan, dan sebagainya. Bahkan hampir seluruh daerah di Jawa telah ikut mengalami peningkatan suhu udara, sehingga banyak penduduk yang merasakan kegerahan walaupun di daerah tersebut tergolong berhawa sejuk dan tidak pesat industrinya.
Berkaitan dengan pernyataan tersebut dapat dicatat keadaan lingkungan di beberapa kota di Indonesia, yaitu :
-          Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri.
-          Konsentrasi bahan pencemar yang berbahaya bagi kesehatan penduduk seperti merkuri, kadmium, timah hitam, pestisida, pcb, meningkat tajam dalam kandungan air permukaan dan biota airnya.
-          Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di musim kemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi banjir yang melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibat kondisi ekosistemnya yang telah rusak.
-          Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di beberapa kola seperti Jakarta sudah mencapai 37 derajat celcius.
-          Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara seperti CO, NO2 SO2, dan debu.
-          Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia terasa semakin menipis, seperti minyak bumi dan batubara yang diperkirakan akan habis pada tahun 2020.
-          Luas hutan Indonesia semakin sempit akibat tidak terkendalinya perambahan yang disengaja atau oleh bencana kebakaran.
-          Kondisi hara tanah semakin tidak subur, dan lahan pertanian semakin memyempit dan mengalami pencemaran.
 

  1. Klasifikasi Pencemaran Lingkungan

Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalam UU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Dari definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga unsur dalam pencemaran, yaitu : Sumber perubahan oleh kegiatan manusia atau proses alam, bentuk perubahannya adalah berubahnya konsentrasi suatu bahan (hidup/mati) pada lingkungan, dan merosotnya fungsi lingkungan dalam menunjang kehidupan.
Pencemaran dapat diklasifikasikan dalam bermacam-macam bentuk menurut pola pengelompokannya :
a)      pengelompokan menurut bahan pencemar yang menghasilkan bentuk pencemaran biologis, kimiawi, fisik, dan budaya
b)      pengelompokan menurut medium lingkungan menghasilkan bentuk pencemaran udara, air, tanah, makanan, dan sosial
c)      pengelompokan menurut sifat sumber menghasilkan pencemaran dalam bentuk primer dan sekunder
 
Namun apapun klasifikasi dari pencemaran lingkungan, pada dasarnya terletak pada esensi kegiatan manusia yang mengakibatkan terjadinya kerusakan yang merugikan masyarakat banyak dan lingkungan hidupnya.
 

  1. Menyikapi Pencemaran Lingkungan

Konferensi PBB tentang lingkungan Hidup di Stockholm pada tahun 1972, telah menetapkan tanggal 5 Juni setiap tahunnya untuk diperingati sebagai Hari lingkungan Hidup Sedunia. Kesepakatan ini berlangsung didorong oleh kerisauan akibat tingkat kerusakan lingkungan yang sudah sangat memprihatinkan.
Di Indonesia perhatian tentang lingkungan hidup telah dilakukan sejak tahun 1960-an. Tonggak pertama sejarah tentang permasalahan lingkungan hidup dipancangkan melalui seminar tentang Pengelolaan lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional yang diselenggarakan di Universitas Padjajaran pada tanggal 15 - 18 Mei 1972. Hasil yang dapat diperoleh dari pertemuan itu yaitu terkonsepnya pengertian umum permasalahan lingkungan hidup di Indonesia. Dalam hal ini, perhatian terhadap perubahan iklim, kejadian geologi yang bersifat mengancam kepunahan makhluk hidup dapat digunakan sebagai petunjuk munculnya permasalahan lingkungan hidup.
Pada saat itu, pencemaran oleh industri dan limbah rumah tangga belumlah dipermasalahkan secara khusus kecuali di kota-kota besar. Saat ini, masalah lingkungan hidup tidak hanya berhubungan dengan gejala-gejala perubahan alam yang sifatnya evolusioner, tetapi juga menyangkut pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah industri dan keluarga yang menghasilkan berbagai rupa barang dan jasa sebagai pendorong kemajuan pembangunan di berbagai bidang.
Pada Pelita V, berbagai upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup dilakukan dengan memperkuat sanksi dan memperluas jangkauan peraturan-peraturan tentang pencemaran lingkungan hidup, dengan lahirnya Keppres 77/1994 tentang Organisasi Bapedal sebagai acuan bagi pembentukan Bapeda/Wilayah di tingkat Propinsi, yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/Daerah. Peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat Undang-Undang Nomor 4 tahun 1982 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui.
Berdasarkan Strategi Penanganan Limbah tahun 1993/1994, yang ditetapkan oleh pemerintah, maka proses pengolahan akhir buangan sudah harus dimulai pada tahap pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga pengolahan akhir limbah buangan (Lampiran Pidato Presiden RI, 1994 : II/27). Langkah yang ditempuh untuk mendukung kebijaksanaan ini, ditempuh dengan pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah Industri Bahan Berbahaya dan Beracun (PPLI-B3), di Cileungsi Jawa Barat, yang pertama di Indonesia. Pendirian unit pengolahan limbah ini juga diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1994 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Disamping itu, untuk mengembangkan tanggung jawab bersama dalam menanggulangi masalah pencemaran sungai terutama dalam upaya peningkatan kualitas air, dilaksanakan Program Kali Bersih (PROKASIH), yang memprioritaskan penanganan lingkungan pada 33 sungai di 13 Propinsi. Upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup ini, ternyata juga menghasilkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha baru di berbagai kota dan sektor pembangunan.
Dari uraian tersebut diatas jelaslah bagi kita bahwa dalam menyikapi terjadinya pencemaran lingkungan baik akibat teknologi, perubahan lingkungan, industri dan upaya-upaya yang dilakukan dalam pembangunan ekonomi, diperlukan itikad yang luhur dalam tindakan dan perilaku setiap orang yang peduli akan kelestarian lingkungan hidupnya.
Walaupun telah ditetapkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, PP No. 19 tahun 1994 dan Keppres No .7 tahun 1994 yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan, jika tidak ada kesamaan persepsi dan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup maka berbagai upaya pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat tidak akan dapat dinikmati secara tenang dan aman, karena kekhawatiran akan bencana dari dampak negatif pencemaran lingkungan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dari tulisan diatas, sebagai
berikut :
Pembangunan yang mengandalkan teknologi dan industri dalam mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi seringkali membawa dampak negatif bagi lingkungan hidup manusia.
Pencemaran lingkungan akan menyebabkan menurunnya mutu lingkungan hidup, sehingga akan mengancam kelangsungan makhluk hidup, terutama ketenangan dan ketentraman hidup manusia.
Adanya pengertian dan persepsi yang sama dalam memahami pentingnya lingkungan hidup bagi kelangsungan hidup manusia akan dapat mengendalikan tindakan dan perilaku manusia untuk lebih mementingkan lingkungan hidup.
Kemauan untuk saling menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup merupakan itikad yang luhur dari dalam diri manusia dalam memandang hakekat dirinya sebagai warga dunia.
 
B. Saran
Limbah industri harus ditangani dengan baik dan serius oleh Pemerintah Daerah dimana wilayahnya terdapat industri. Pemerintah harus mengawasi pembuangan limbah industri dengan sungguh-sungguh. Pelaku industri harus melakukan cara-cara pencegahan pencemaran lingkungan dengan melaksanakan teknologi bersih, memasang alat pencegahan pencemaran, melakukan proses daur ulang dan yang terpenting harus melakukan pengolahan limbah industri guna menghilangkan bahan pencemaran atau paling tidak meminimalkan bahan pencemaran hingga batas yang diperbolehkan. Di samping itu perlu dilakukan penelitian atau kajian

DAFTAR PUSTAKA

Harian Kompas, 18 Pebruari 2003.

Harian Jawa Pos, 28 Desember 2001.

Riyadi, Slamet. 1984. Kesehatan Lingkungan. Surabaya : Karya Anda.

Tanjung, Shalahudin Djalal. 2002. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta. Pusat Studi Lingkungan Hidup. Universitas Gajah Mada.

http://www.google.co.id/dampak_limbah. Diakses Januari 2008.

 

PEMBELAJARAN TERPADU


PEMBELAJARAN TERPADU

Sebagai suatu model proses belajar-mengajar, Pembelajaran terpadu bercirikan pada pemusatan kegiatan ditujukan kepada anak (child centered)

a.       Berpusat pada anak (child centered), karena isi dan proses PT telah disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak (Developmentally).

b.      Memberikan pengalaman langsung kepada anak, yang memiliki maksud dalam pembelajarannya lebih menekankan pada pembentukan pemahaman dan kebermaknaan hal yang dipelajari oleh siswa.

c.       Lebih memperhatikan kegiatan proses daripada hasil semata, sehingga siswa betul-betul memahami dan mengerti akan konsep-konsep yang di dapat melalui orientasi pembelajaran yang diarahkan kepada pencapaian efek pengiring dan efek instruksional.

d.      Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam satu pembelajaran, yang kesemuanya ini dirangkum sebelumnya untuk mendapatkan keterkitannya.

e.       Muatan pendekatan pembelajaran yang sarat dengan kterkaitan intern maupun antar mata pelajaran.

f.       Hasil pembelajaran dapat berkembang seseuai dengan minat dan kebutuhan anak.

 

3. Manfaat Pembelajaran Terpadu

Apabila PT diterapkan secara terencana, para siswa akan memperoleh manfaat yang betul-betul berguna bagi pembelajaran selanjutnya. Menurut Welfinger (1994) ada 5 manfaat utama yaitu :

a.       Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilannya yang dikembangkan dalam mata pelajaran secara maksimal dan lebih bermakna.

b.      Ada sejumlah materi antarmata pelajaran yang tumpang tindih. Oleh karena itu PT bermanfaat untuk mempelajari ketumpangtindihan itu secara utuh dan bermakna.

c.       Melalui PT, kemampuan memecahkan masalah dan kebiasaan berfikir kreatif siswa dapat dikembangkan dengan menggunakan keterampilan-keterampilan dalam situasi nyata.

d.      Daya ingat anak tentang materi yang dipelajari dapat ditingkatkan karena siswa dihadapkan pada konsep yang sama dalam situasi yang bervariasi dan melalui berbagai cara

e.       Transfer belajar terjadi lebih terbuka. Hal ini terjadi karena situasi belajar siswa dekat dengan situasi kehidupan nyata

 

4. Landasan Pembelajaran Terpadu

Ada beberapa teori yang melandasi terbentuknya PT diantaranya sebagai berikut ini :

1.      Filsafat Progresifvisme yang menegaskan bahwa :

a.       Pendekatan yang tepat digunakan adalah pendekatan yang berpusat pada Siswa (Child Centered)

b.      Memberikan penekanan pada aktivitas, kreativitas dalam belajar secara alamiah dan pengalaman langsung

2.      Teori Konstruktivisme

a.       Setiap orang harus aktif menyusun pengetahuannya sendiri

b.      Pengalaman adalah kunci dari belajar yang bermakna

3.      Teori Perkembangan Kognitif

a.       Perubahan tingkah laku yang terjadi dalam proses perkembangan adalah hasil dari perubahan dalam kemampuan berpikir seorang dalam hubungannya dengan dunia sekitarnya.

b.      Ada faktor penentu perkembangan berfukir yaitu faktor organisasi dan faktor adaptasi

4.      Teori Psikologi Gestalt

a.       Keseluruhan lebih bermakna  dari bagian-bagian

b.      Persepsi anak sangat penting diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran

5.      Teori Pembelajaran

a.       Menginteraksikan dua/lebih bidang studi dan memusatkan pembelajaran dalam satu tema berarti menempatkan pengembangan keterampilan sama penditngnya dengan penguasaan isi.

b.      Penggunaan PT sebagai model pembelajaran yang berguna untuk membuat siswa lebih mudah melihat pola hubungan antar konsep, melibatkan siswa dalam proses pengambilan keputusan, mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan bekerjasama. Membantu siswa menghilangkan rasa cemas dalam belajar.

 

5. Kendala-kendala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu

Dalam pelaksanaannya pembelajaran terpadu memiliki beberapa kendala untuk berhasil dilaksanakan. Kendala yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  1. Kurikulum dan GBPP yang sangat rapi ditata serta dipilah berdasarkan cakupan-cakupan batas bidang studi.
  2. Penjadwalan pembelajaran yang terpisah-pisah secara kaku, maksudnya jadwal pelajaran yang tidak saling terhubung dengan materi pelajaran yang telah dipelajari seberlumnya.
  3. Guru yang kurang berpengalaman menyelenggarakan PT menjadikan kurang optimalnya hasil yang dicapai dalam pelaksanaan pembelajaran, bahkan membuat pembelajaran terpadu menjadi gagal untuk dilaksanakan
  4. Keterbatasan atau kurangnya fasilitas dan sumber belajar yang bervariasi yang menunjang pelaksanaan pembelajaran. Hal ini penting karena pembelajaran terpadu menuntut anak untuk dapat mengolah potensi diri secara langsung melalui pasilitas sumber belajar untuk mendapatkan informasi.
  5. Penilaian lebih berorientasi hasil yang diukur dengan tes
  6. Formalisasi sistem persekolahan modern yang didasarkan atas pembagian sistem kerja (spesialisasi) yang ada dalam masyarakat.

 

6. Model dan Tahapan Pembelajaran terpadu

Ada tiga model PT yang diharapkan dapat dilaksanakan di sekolah dasar yaitu: model keterhubungan (connected), dan keterpaduan (integreted), Jaring Laba-laba (webbed). Dan setiap model ini akan melalui tahap dalam proses pembelajarannya. Tahapan tersebut adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap kulminasi. Jika dapat dipaparkan sebagai berikut :

Model PT Perencanaa Pelaksanaan Kulminasi
Keterhubungan

(connected)

–    Peta konsep satu mata pelajaran

–    Menetapkan konsep-konsep yang berhubungan

–    Rancangan aktivitas

–    Pelaksanaan tugas

–    Analisis hasil pelaksanaan tugas

–    Penyusunan laporan

–    Penyajian laporan

–    Evaluasi

Ketepaduan

(Integreted)

–    Peta konsep berbagai mata pelajaran

–    Konsep-konsep berhubungan

–    Rancangan aktivitas

–    Pelaksanaan tugas

–    Analisis hasil pelaksanaan tugas

–    Penyusunan Laporan

–    Penyajian laporan

–    Evaluasi

Jaring Laba-laba

(webbed)

–    Penjajangan tema

–    Penetapa tema

–    Pengembangan subtema

–    Penetapan kegiatan /kontrak belajar

–    Pengumpulan informasi

–    Pengolahan informasi

–    Penyusunan laporan

–    Penyajian informasi

–    Evaluasi

 

7. Cara Melaksanakan Pembelajaran Terpadu

Dalam pelaksanaanya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi cara guru melaksanakan PT. Hal ini mengakibatkan adanya beraneka ragam bentuk pelaksanaanya. Ragam ini ditentukan oleh : sifat materi yang dipadukan, cara memadukan materi, perncanaan pemaduan, waktu pelaksanaan, dan unsur pemicu pemaduan.

a.       Sifat Materi

Jika ditinjau dari sifat materi yang dipadukan ada dua macam bentuk implementasi PT, yakni PT intra mata pelajaran dan PT antar mata pelajaran.

b.      Cara Memadukan Materi

Dalam pelaksanaannya PT terkadang masih memperlihatkan secara tegas batas-batas antar mata pelajaran, kadang-kadang batas antar mata pelajaran sangat samar, hampir seperti tidak ada sekat yang membatasinya. Dalam prakteknya, jika suatu tema telah ditetapkan, maka guru bersama siswa mengkaji tema tersebut dari sudut pandang masing-masing mata pelajaran. Berdasarkan tema tersebut, guru bersama siswa menentukan unsur-unsur mata pelajaran yang bisa dipelajari tanpa harus ada tumpang tindih dengan mata pelajaran lain. Jika suatu tema telah ditetapkan, siswa diajak mempelajari aspek lainnya dari tema yang telah ditetapkan

c.       Perencanaan Pemaduan

Proses perencanaan PT ada yang dibuat dengan perencanaan yang matang dan ada juga yang terjadi secara spontan. Guru dapat merancang sejak awal PT, dengan memilih konsep-konsep yang akan dikondisikan dalam aktivitas untuk mencapai keterpaduan. Guru dapat memilih tema-tema yang akan dijadikan jembatan untuk memadukan satu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran baik itu mata pelajaran yang sama maupun mata pelajaran yang berbeda, tetapi mata pelajaran itu haruslah memiliki hubugan untuk dapat dipadukan. Karena itu pembuatan peta konsep perlu diadakan oleh guru untuk menemukan konsep-konsep yang terkait atau tumpang tindih.

Namun ada kalanya guru tidak merencanakan secara matang keterpaduan antara satu konsep dengan konsep yang lain, satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Dalam proses belajar-mengajar guru dapat mengaitkan materi lain dengan materi yang sedang diajarkannya, sehingga memungkinkan guru untuk melaksanakan pembelajaran terpadu spontan.

d.      Waktu Pelaksanaannya

PT dapat dilaksanakan dalam waktu tertentu yakni apabila materi yang diajarkan cocok untuk dilaksanakan secara penuh dalam satu hari. Ada pula yang melaksanakannya secara periodik. PT yang dilaksanakan pada waktu tertentu dikatakan PT yang bersifat temporer, disini pelaksanan PT tidak mengikuti jadwal yang teratur. PT ini dilaksanakan tanpa kepastian waktu. Pembelajaran yang demikian sangat bersifat situasional. PT dapat dirancang secara periodi, misalkan setiap akhir pekan, setiap akhir semester, dan lain sebagainya.

e.       Pemicu Keterpaduan

Munculnya ide untuk melaksanakan PT dimulai dari kegiatan guru menganalisis kurikulum untuk menentukan konsep-konsep yang saling tumpang tindih. Kemudian dilanjutkan dengan membuat peta konsep, menentukan tema. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis ini guru menyusun program PT di kelasnya. Guru dapat pula melaksanakan PT dengan cara menetapkan tema terlebih dahulu. Berdasarkan tema tersebut ditentukan kegiatan belajar-mengajar yang memadukan mata pelajaran yang terkait.

 

8. Model Rencana Pembelajaran Terpadu

Jika dipaparkan dalam rencana pembelajaran akan seperti berikut ini :

1.      PT model keterpaduan (Connected) dan PT model keterpaduan Intra mata pelajaran (Integrated) :

a.   Tahap Perencanaan

2.      Pt model jaring laba-laba (Webbed)

1.      Model Keterhubungan (Connected) adalah model pembelajaran yang memadukan satu mata pelajaran dengan menghubungkan berbagai konsep-konsep yang mempunyai kesamaan. Dalam perencanaannya yang pertama dilakukan adalah membuat pemetaan konsep satu mata pelajaran berdasarkan kurikulum yang dipakai, hal ini betujuan memudahkan menemukan jalinan konsep yang saling berhubungan. Setelah pemetaan konsep selesai barulah guru menetapkan konsep-konsep yang berhubungan dan guru membuat rancangan aktivitas belajar berdasarkan konsep-konsep yang telah ditetapkan. Rancangan aktivitas inilah yang nantinya akan disiapkan untuk dilaksanakan oleh siswa dalam pembelajaran

2.      Model Keterpaduan (Integreted)

3.      Model Jaring Laba-laba (Webbed) adalah model pembelajaran yang memadukan lebih dari satu mata pelajaran tentunya setiap mata pelajaran itu tidak semuannya dapat di padukan hanya mata pelajaran yang memiliki konsep yang berhubungan yang dapat dipadukan

Simulator Terbaik menurut persi sendiri

Menurut saya simulator yang terbaik adalah Citrariani karena dalam pelaksanaan pembelajaran citra terlihat tidak kaku, dia telah menempel alat bantu yang dipergunakan untuk membantu dalam proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran ia memulai dengan menyebutkan tujuan pembelajaran yang akan di dapat siswa selama kegiatan pembelajaran. Kemudian ia mencoba memunculkan tema sentral atau tema pokok melalui pertanyaan dan arahan dari media-media yang telah di tempel di depan kelas. Kemudian dari tema sentral itu ia mengajak siswanya untuk bercurah pendapat dengan membimbing siswa untuk menentukan sub-sub tema yang telah disiapkan untuk di pelajari sesuai dengan perencanaan awal. Setelah tema sentral dan sub tema yang akan dipelajari ditemukan ia mengajak siswa untuk mengerjakan tugas dalam LKS yang telah disiapkan tentunya dengan tema pokok perdagangan dan membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Setelah selesai mengerjakan lembaran tugas siswa diajak melakukan tanya jawab untuk mengetahui hasil dari jawaban siswa. Pada akhir kegiatan citra mengajak siswa menyimpulkan hasil kegiatan selama itu, dan memberikan tugas kepada siswa untuk mencari informasi yang berkaitan dengan perdagangan.

Kelemahan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan

Dalam melaksanakan pembelajaran citra kurang melakukan kegiatan bertanya untuk mengarahkan siswa untuk mencoba memunculkan sub tema dari pembelajaran, dalam kegiatannya ia tidak melakukan kontrak kerja padahal kontrak kerja penting untuk memberikan gambaran kepada siswa tentang apa-apa saja yang harus dilakukan oleh siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan.

Kelebihannya

Dalam pelaksanaan pembelajaran ia tidak terlihat gugup sehingga ia mampu mengkondisikan siswanya dengan baik dan mampu mengarahkan siswanya untuk memberikan pendapat-pendapatnya. Dari segi kesiapan media ia sudah menyiapkan berbagai media seperti : contoh grafik, tabel, gambar perdagangan di pasar, gambar kegiatan ekspor dan impor barang, wacana perdagangan untuk