WAWASAN NUSANTARA


WAWASAN NUSANTARA

Wawasan nusantara adalah cara pandang, cara melihat, cara meninjau bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 yang dilatarbelakangi oleh keadaan geogerafis Negara serta sejarah yang di alaminya dan lingkungan strategic di sekitarnya.

Wawasan nusantara tumbuh dan berkembang sesuai dengan kepentingan nasional Indeonesia, berangkat dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia yang rawan perpecahan, keinginan untuk memanfaatkan konstelasi geografi Indonesia yang berupa kepulauan dan berada di tengah-tengah dunia (posisi silang) untuk kejayaan bangsa dan negara Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus mempunyai cara pandang, terhadap diri dan lingkungnnya. Cara pandang itu melihat kepulauan Indonesia (perairan dan pulau) dan segala aspek kehidupan di dalamnya menjadi satu kesatuan yang utuh

Iklan

Kumpulan Abstrak PTK SD


PENERAPAN METODE BELAJAR TUNTAS

DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

MENGARANG BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS IV

SDN 2 PENGAMBENGANPADA SEMESTER II

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh:

 NAMA          : Anshori,S.Pd

 NIP               : 196304031984041004

ABSTRAK

 

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: Mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode Belajar Tuntas pada siswa  kelas IV SDN 2 Pengambengan Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014. Terutama pada materi mengarang

            Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas IV SD Negeri 2 Pengambengan tahun pelajaran 2013/2014 dengn jumlah siswa sebanyak 40. Tindakan yang dilakukan dengan menerapkan metode Belajar Tuntas dalam pembelajaran mengarang mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.

Berdasarkan hasil yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas, dapat di jelaskan bahwa: hasil peningkatan pretasi belajar siswa dari prasiklus/tes awal prestasi siswa masih rendah karena di bawah KKM yaitu rata-rata kelas mencapai nilai 53,6. Pada siklus I setelah diterapkan metode belajar tuntas  rata-rata kelas mengalami peningkatan menjadi 65,30 sudah mencapai KKM namun masih pada keriteria sedang dan ketuntasan belajar masih 67,5 % belum mencapai 70% maka dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II rata-rata kelas mencapi nilai 73,5 sudah termasuk keriteria baik. Dan ketuntasan belajar siswa jg sudah tutas dengan persentase ketuntasan 87,5 % melebihi keritria ketuntasan minimum yaitu 70%. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif dapat diterima, maka dapat disimpulkan bahwa: penerapan metode belajar tuntas dapat meningkatkan prestasi belajar mengarang bahasa Indonesia siswa Kelas IV  SDN 2 Pengambengan semester II tahun pelajaran 2013/2014.

Kata-kata kunci: Metode belajar tuntas, dan prestasi belajar siswa

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

 DENGAN MENGUNAKAN MEDIA BENDA KONKRET

PADA SISWA KELAS IV SDN 2 PENGAMBENGAN

 SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA           : KARYONO, S.Pd

NIP                 : 196304031984041004

 

ABSTRAK

            Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SD bertujuan untuk melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten. Anak diharapkan terampil menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kenyataan dilapangan anak-anak banyak mengalami kesulitan terutama kemampuan menghitung luas permukaan bangun ruang. Agar kemampuan menghitung luas di SD dapat ditingkatkan maka dapat memanfaatkan sumber belajar sekitar siswa yang berupa benda-benda konkret. Dengan menggunakan benda-benda konkret anak mampu melakukan aktivitas logis dalam memecahkan masalah, hal itulah sebagai cara untuk mengatasi permasalahan pembelajaran di SDN 2 Pengambengan.

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk Untuk mengetahui Apakah ada peningkatkan prestasi belajar matematika dalam menghitung luas bangun ruang setelah mengunakan  media benda konkret pada siswa kelas IV SDN 2 Pengambengan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.

            Berdasarkan analisi data prestasi belajar siswa, pemberian tindakan pada siklus I cukup berhasil untuk meningkatkan prestasi belajar. Hal ini ditunjukkan adanya peningkatan dari nilai rata-rata kelas tes awal yang bernilai 48,63 dan mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan siklus I dengan nilai rata-rata kelas menjadi 59 namun nilai ini masih tergolong kategori cukup. Hasil analisis data prestasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan yang sangat baik ini ditunjukkan dari perbandingan siklus I yang nilai rata-rata kelas 59 dan meningkat pada siklus II nilai rata-rata kelas menjadi 66,38. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi belajar pada siklus II sudah memenuhi target. Dapat disimpulkan dengan mengunakan media benda konkret, perestasi belajar matematika siswa kelas IV SDN 2 Pengambengan dalam menghitung luas bangun ruang mengalami peningkatan

Kata-kata kunci: Media benda konkret, dan prestasi belajar matematika

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR

ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN

MEDIA GAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TERPADU SISWA KELAS V SDN 2 PENGAMBENGAN

 

Oleh:

NAMA            : MUJAHIDIN, S.Pd

NIP                  : 195704081980101004

 

ABSTRAK

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: mengetahuipeningkatan prestasi belajar siswa  setelah mengunakan media gambar melalui model pembelajaran terpadu pada mata pelajaran  IPA pada materi makhluk hidup dan proses kehidupannya.

            Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas V SD Negeri 2 Pengambengan tahun pelajaran 2013/2014 dengn jumlah siswa sebanyak 47. Tindakan yang mengunakan media gambar melalui model pembelajaran terpadudalam pembelajaran IPA. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus.

Berdasarkan hasil yang diperoleh selama pelaksanaan program perbaikan pembelajaran, diperoleh hasil bahwa pada tindakan prasiklus nilai rata – rata kelas adalah 45,83, pada tindakan siklus I nilai rata-rata kelas adalah 68,75, pada tindakan siklus II meningkat menjadi 85,42, sedangkan pada tindakan siklus III, nilai rata-rata yang diperoleh siswa meningkat menjadi 92,71. Dari aspek jumlah siswa yang tuntas dalam pembelajaran, pada kegiatan pembelajaran normal, jumlah siswa yang tuntas hanyalah berjumlah 15 orang atau 31,25%. Pada tindakan siklus I, jumlah siswa yang tuntas meningkat menjadi 29 orang atau 60,42%, pada tindakan siklus II meningkat menjadi 42 orang atau 87,50, dan pada tindakan siklus III seluruh siswa, sebanyak 48 orang atau 100% tuntas dalam pembelajaran. Dapan disimpulan bahwa adanya peningkatan prestasi belajar terhadap mata pelajaran IPA siswa kelas V SDN 2 Pengambengan dengan menggunakan media gambar melalui model pembelajaran terpadukususnya pada materi makhluk hidup dan proses kehidupannya

Kata-kata kunci: model pembelajaran terpadu, dan prestasi belajar IPA

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

SISWA KELAS V SDN 3 PENGAMBENGAN,

KABUPATEN JEMBRANA TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA            : MUKSIN, S.Pd

  NIP               : 195610261980101001

 

ABSTRAK

            Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk: mengetahuipeningkatan prestasi belajar siswa  setelah menerapkan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran  matematika pada materi pecahan.

            Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas V SD Negeri 3 Pengambengan tahun pelajaran 2013/2014 dengn jumlah siswa sebanyak 27. Tindakan yang dilakukan berupa implementansi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: Nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan yaitu dari 43,7 pada pra siklus menjadi 56,11 pada siklus I dan mengalami peningkatan sebesar 71,3 pada siklus II. Ketuntasan belajar siswa secara kelasikal mengalami peningkatan yaitu dari 14,81% pada pra siklus menjadi 62,92% pada siklus I dan mengalami peningkatan menjadi 88,89% pada siklus II. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan terhadap hasil-hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab IV di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif dapat diterima, maka implementasi pendekatan kontekstual efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas V  SDN 3 Pengambengan.

 

Kata-kata kunci: kontekstual, dan prestasi belajar matematika

MENINGKATAN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS BELAJAR DAN RESITASI PADA SISWA KELAS IV SDN SDN 3 LELATENG

 SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA           : Abdul Hakim, S.Pd

NIP                 : 195807101981021004

 

ABSTRAK

Peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “ Meningkatan Pembelajaran Agama Islam Melalui metode pemberian tugas belajar dan resitasi Pada Siswa Kelas IV SDN SDN 3 Lelateng”. Sesuai dengan permasalahan penelitian ini bertujuan untuk: Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pemberian tugas belajar dan resitasi. Dan Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pemberian tugas belajar dan resitasi.

            Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SDN 3 Lelateng Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana Tahun Pelajaran 2013/2014

            Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode pemberian tugas belajar dan resitasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan II) yaitu masing-masing 68,18%, 75%, dan 83,3%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan. Penerapan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan sebagian siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar

Kata-kata kunci: metode pemberian tugas belajar dan resitasi, dan pembelajaran agama islam

 

MENINGKATAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN

DALAM MELAKUKAN SHOLAT WAJIB MELALUI

STRATEGI MODELLING THE WAY

PADA SISWA KELAS IV SDN 2 BANJAR TENGAH

SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2013/2014

 

Oleh:

NAMA           : HALIMI, S.Pd

NIP                 : 195612311981121022

 

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan kemampuan melakukan sholat wajib melalui strategi modelling the way pada siswa kelas IV SDN 2 Banjar Tengah, Semester II tahun pelajaran 2013/2014.

Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas IV SDN 2 Banjar Tengah Semester II tahun pelajaran 2013/2014 dengan jumlah siswa 13 siswa.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas, pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan tes atau penugasan, sedangkan analisis data dilakukan dengan model interaktif. Sedangkan aktifitas dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui strategi modelling the way dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan melakukan sholat wajib pada siswa Kelas IV SDN 2 Banjar Tengah Semester II tahun pelajaran 2013/2014. Aktivitas belajar dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan: aspek membaca rukun sholat (nilai rata-rata meningkat 1,1; persentase naik 21,8%; dari kategori baik menjadi amat baik), aspek membaca syarat sholat (nilai rata-rata naik 0,7; prosentase naik 14,8%; dari kategori baik menjadi amat baik); aspek membaca hal yang membatalkan sholat (nilai rata-rata meningkat 0,7; persentase naik 15,7%; dari kategori baik menjadi amat baik), dan aspek praktek sholat (nilai rata-rata naik 0,9; prosentase naik 18,3%; dari kategori baik menjadi amat baik). Hasil belajar siswa dari kondisi awal ke siklus II mengalami peningkatan, yaitu dari 4 siswa (30%) yang mendapat nilai tuntas menjadi 13 siswa (100%). Terjadi peningkatan sebanyak 9 siswa (70%) dan nilai rata-rata kelas dari 60,4 menjadi 87,6, meningkat sebesar 24,8.

 

Kata kunci : Aktivitas.  Kemampuan melakukan sholat wajib, Strategi modelling the way.

 

berminat sofecopy file PTK diatas  monggo PIN : 75B06C4D

Pendidik yang Kehilangan Jati Dirinya


Pendidik yang Kehilangan Jati Dirinya

Pendidik atau yang disebut dengan Guru, saat ini guru sudah Bukan bertugas untuk mengajar atau memnyalurak ilmu kepada peserta didik. saat ini pendidik terlalu di bebankan kepada kelengkapan administrasi dan sistem-sistem pendidikan, sistem-sitem profesi, dan lain-lain yank membut pendidik sangat terbebani dengan hal tersebut. hal ini ber akibat pada kosen trasi untuk memajukan peserta didikpun menjadi berkurang.

pendididik terutama pada tingkat sekolah dasar saat ini tidak bisa penuh memperhatikan kemajuan pesertadidiknya dengan baik.  ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

pertama : minimnya jumlah tenaga pendidik disekolah ini ditunjukkan dengan perbandingan peserta didik yang terlalu banya tidak sebanding dengan julah pendidiknya. contohnya di tempat kami dengan jumlah siswa 130 terdiri dari 6 kelas hanya ada 4 tenaga pendidik dan 1 kepala sekolah. dari sisni saja sudah dapat dilihat bahwa ada beberapa kelas yang tidak penuh mendapat perhatian dari guru. dan masih banyak sekolah sekolah yang kondisinya hampir sama dengan ini. biasanya dari pihak sekolah hanya bisa mencarikan guru abdi untuk membantu proses pembelajaran tapi saya rasa itu belum cukup karena bagaimana pun guru abdi kesejahteraannya masih kurang sehingga sedikit banyak mempengaruhi semangat untuk melaksanakan proses pembelajaran. disini dapat disimpulkan secara kusus pendidikan disekolah tidak bisa b erjalan maxsimal. secara umum mengakibatkan rendahnya sumber daya manusia di Indonesia pada masa yang akan datang. jadi untuk solusi hal tersebut peserta didik harus lebih aktif untuk belajar di luar jam sekolah seperti mengikuti les, privat, bimbel, kelompok belajar yank pastinya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, biaya ini amat terasa berat bagi orangtua dengan penghasilan menengah kebawah demi meningkatkan prestasi anaknya. disini secara tidak langsung sudah menunjukkan bahwa sekolah sudah tidak bisa dipercaya penuh terhadap prestasi siswa

Kedua : banyaknya tuntutan administrasi keguruan, seperti pendidik diwajibkan membuat RPP, Silabus, program semester, program tahunan dan masih banyak lainnya. memang sebenarnya administrasi itu penting karena cara menilai yang paling mudah adalah dengan cara melihat bukti kelengkapan administasi tersebut. secara gampang guru dinilai baik jika administrasi sudah lengkap guru dinggap kurang baik jika administrasi belum lengkap. padahal saat ini administrasi tersebut banyak yang memperjual belikannya kelengkapan administrasi tersebut, memperjual belikan kelengkapan administrasi itu juga tidak salah karena, jika pendidik membuat administrasinya sendiri entah kapan selesai administrasinya dan banyak waktu yang terbuang  jadi pendidik palinggampang membeli semua kelengkapan administrasi tersebut sehingga tidak banya juga yang merogoh dompetnya sendiri untuk membeli kelengkapan administrasi. disini dapat disimpulnya sebenarnya Rugi Besar semua administrasi tersebut karana pada kenyataannya tak ada gunanya, administrasi itu semua akan menjadi tumpukan yang tak da artinya dan berguna saat ada pemeriksaan saja. padahal disisi lain yang menjadi tujuan sekolah adalah mencetak peserta didik yang berprestasi menjadi tak mendapat perhatian.

ke tiga : hai ini adalah hal yg sangat memprihatinkan, yaitu tidak adanya dan jarangnya tenaga TU di masing- masing sekolah. banyaknya tuntutan administrasi sekolah dari atas yang harus segera di kerjakan dan dikirim. tidak adanya tenaga TU bukan berarti sekolah bisa tidak membuat atau mengirim administrasi tersebut jadi dengan sangat penuh tanggug jawab guru yang tugas awalnya sebagai pendidik harus merangkap menjadi TU. masalahnya administasi itu sangat banya jadi guru tidak jarang untuk meninggalkan kelas untuk menyelesaikan administrasi tersebut. sinkatnya guru lebih banyak membuat administrasi dari pada mengajar

Ke empat : adanya dana BOS. dana Bos memang sangat membantu berlangsungnya proses belajar mengajar. namun dana BOS tersebut harus disertai denganpertanggung jawaban yang sangat banyak dan membutuhkan tenaga yang bisa mengolah dan mempertanggung jawabkannya. lagi-lagi guru menjadi korban untuk mengelola dana tersebut. pengelolaan ini sunggu sangat sulit dan banyak memakan waktu mengajar. dana BOS ini saya anggap sebagai dilema terutama di tingkat Sekolah dasar yang tidak mempunyai tenaga dibidangnya, dana Bos sangat perlu untuk kemajuan siswa tapi mengorbankan kebutuhan peserta didik terhadap pendidik di dalam kelas.

mau – gak mau pendidik harus mengerjakan semua pekerjaan bahkan sampai mengorbankan tugasnya utuk mendidik peserta didiknya.. guru telah kehilang jati dirinya sebagai pendidik. saat ini guru sebagai pembuat administrasi bukan pencetak peserta didik yang berprestasi lagi. sapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan …?

Pengertian Landasan Psikologis dalam Pendidikan


2.1 Pengertian Landasan Psikologis dalam Pendidikan

Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak.  Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Menurut Whiterington (1982:10) bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar. Karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.

Kalau kita berbicara tentang individu yaitu manusia, maka kita akan bertemu dengan beberapa keunikan perilaku/jiwa (psyche), dan faktor ini akan berhubungan erat bahkan menentukan dalam keberhasilan proses belajar. Didasari pada begitu eratnya antara tugas psikologi (jiwa) dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin yaitu psikologi pendidikan (educational psychology).

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.

Pemahaman peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psiologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Misalnya pengetahuan tentang aspek-aspek pribadi, urutan, dan ciriciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang caracara paling tepat untuk mengembangkannya. Untuk itu psikologi menyediakan sejumlah informasi tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta berkaitan dengan aspek pribadi.

Individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan serta tempo, dan irama perkembangan yang berbeda satu dengan yang lain. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka mungkin memiliki beberapa persamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhatihati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garisgaris besar program pengajaran serta tingkat keterincian bahan belajar yang digariskan.

Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejalagejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikit, dan belajar (Tirtarahardja, 2005: 106).

DOWNLOAD SELENGKAPNYA ISINI

Filsafat Pendidikan


FILSAFAT PENDIDIKAN

Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of science) yang mampu menjawab segala pertanyaan tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan alam semesta, manusia dengan segala problematikanya dalam kehidupan. Kemudian karena semakin berkembangya pemikiran manusia, banyak problema yang tidak bisa dijawab, maka lahirlah ilmu pengetahuan dalam bentuk disiplin ilmu dengan keterkhususannya masing-masing sehingga sanggup menjawab atas problematika perkembangan metodologi yang semakin pesat (Abdullah dalam Arifin 2009).

Setiap disiplin ilmu memiliki obyek dan sasaran yang berbeda-beda, disiplin ilmu mengurus dan mengembangkan bidang garapan tersendiri. Akibatnya terjadi pemisahan antara berbagai macam bidang ilmu, maka lahirlah cabang ilmu yang lain untuk membantu menjawab segala macam permasalahan-permasalahan yang timbul, termasuk permasalah-permasalahan di bidang pendidikan. John Dewey, menyatakan bahwa filsafat itu adalah teori umum dari pendidiakan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan.

 Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang melatar belakangi munculnya filsafat pendidikan adalah banyaknya perubahan-perubahan dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan, yang tidak mampu dijawab sendiri oleh filsafat saja, banyaknya ide-ide yang baru di dunia pendidikan.

2.1.2 Pengertian filsafat pendidikan

Filsafat pendidikan menurut Al-syaibany dalam Sadulloh, (2008:71) adalah: “Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu menceritakan satu segi dari segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar sari falsafah umum dalam menyelesikan masalh-masalah pendidikan secara praktis”

John Dewey dalam sumadi (2007:3) memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emotional) menuju ke arah tabi’at manusia, maka filsafat juga dapat diartikan sebagai teori umum pendidikan.

Van Cleve Morris dalam sumadi (2007:3) menyatakan : “Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya, bukan alat social semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, akan tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan lebih baik).

Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak-didik menuju terbentuknya manusia memiliki keperibadian yang utama dan ideal.

Dalam pengertian yang singkat Filsafat pendidikan adalah suatu aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Dengan demikian jelaslah bahwa filsafat pendidikan itu adalah filsafat yang memikirkan tentang masalah kependidikan. Oleh karena itu ada kaitan dengan pendidikan, maka filsafat diartikan sebagai teori pendidikan dalam segala tingkat.

2.1.3 Ruang Lingkup Pemikiran Filsafat

Dalam memahami dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan pendidikan perlu dipahami pola dan system pemikiran kefilsafatan pada umumnya. Pola dan system pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah :

  1. Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti dalam berpikirnya logis dan rasional tentang hakikat masalah yang dihadapi;
  2. Tinjauan permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal artinya menyangkut persoalan-persoalan mendasar samapai keakar-akarnya.
  3. Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal artinya persoalan-persoalan yang dipikirkannya bersifat menyeluruh;
  4. Meskipun pemikiran-pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, namun didasari oleh nilai-nilai yang obyektif.

Pola dan system berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:

  1. Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang, dan waktu. Serta kenyataan manusia sebagai ciptaan manusia;
  2. Ontologi: yaitu tentang pemikiran asal usul kejadian alam semesta, darimana dan ke arah mana proses kejadiannya.
  3. Philosophy of main: yaitu pemikiran filosofis tentang “jiwa” dan bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana dengan kebebasan kehendak dari manusia (free will);
  4. Efistimologi : yaitu suatu pemikiran yang menyatakan apa dan bagaimana sumber pengetahuan diperoleh; apakah dari akal pikiran (rationalisme) atau dari pendalaman panca indra (empirisme) atau dari ide-ide (aliran Idealisme) atau aliran dari Tuhan (Theologisme);
  5. Axiologi : yaitu pemikiran tentang nilai-nilai tinggi dari Tuhan. Misalnya, nilai moral, nilai agama, nilai keindahan, (Sumadi. 2007:1-2).

2.2  ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MODERN

Dalam filsafat pendidikan modern dikenal beberapa aliran, antara lain progresivisme, esensialisme, perenialisme, dan rekonstruksionisme.

2.2.1 Aliran Progresivisme

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadiaan manusia. Dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dan dinamakan environmentalisme, Karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu memengaruhi pembinaan kepribadiaan (Noor Syam, 1987: 228-229)

Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter.

John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja.

Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Karena sekolah adalah bagian dari masyarakat. Dan untuk itu, sekolah harus dapat mengupyakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itulah, fisafat progesivisme menghendaki sis pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing.

Dengan kata lain akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan nilai-nilai (transfer of value), sehingga anak menjadi terampildan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.


2.2.2 Aliran Esensialisme

Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan cirri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.

Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian ke luar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.

Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah buikanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai substansi spiritual yang membina dan menciptakan diri sendiri.

Roose L. finney, seorang ahli sosiologi dan filosof , menerangkan tentang hakikat social dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan ruhani yang pasif, hal ini berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja Yng telah ditentukan dan diatur oleh alam social. Jadi, belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai social angkatan baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi dan diteruskan pada angkatan berikutnya.

2.2.3 Aliran Perenialisme

Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang (Noor Syam, 1986: 154). Dari pendapat ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi sseorang untukk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah, perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah arsah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan.

Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami factor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya.

Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan kepadaperkembangan zaman dulu.

Tugas utama pendidiakn adalah mempersiapkan anak didik kea rah kematangan. Matang dalam arti hiodup akalnya. Jadi, akl inilah yang perlu mendapat tuntunan kea rah kematangan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis, dan berhitung, anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.

Sekolah, sebagai tempat utama dalam pendidikan, mempesiapkan anak didik ke arah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata lain, keberhasilan anak dalam nidang akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.

2.2.4 Aliran Rekonstruksionisme

Kata Rekonstruksionisme bersal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Noor Syam (1985: 340), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempumyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.

Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit,, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

2.3    HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, MANUSIA DAN PENDIDIKAN

2.3.1 Manusia dan Filsafat

Manusia dan Filsafat mempunyai kaitan yang cukup erat dalam suatu kehidupan. Manusia memiliki akal pikiran dan berbagai kebutuhan untuk suatu hal yang diinginkan yang akan melahirkan suatu pemikiran filsafati. filsafat juga merupakan suatu sikap atau pandangan hidup manusia, karena filsafat seseorang ialah keseluruhan jumlah kepercayaan atau keyakinannya, jadi setiap manusia cenderung mempunyai suatu filsafat hidup atau pedoman hidup.

Menurut Alfiandry (2010:7-8) Filsafat bukan semata-mata permainan alam pikiran yang hanya untuk memenuhi hasrat keingintahuan manusia, tetapi filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia. Ada beberapa alasan mengapa kita memerlukan filsafat, yaitu bahwa :

  1. filsafat membantu manusia dalam mengambil keputusan dan tindakan dalam kehidupannya.
  2. filsafat sedikit banyaknya dapat mengurangi kesalahpahaman dan konflik dalam hidup.
  3. untuk dasar menghadapi banyak kesimpangsiuran banyak hal dalam dunia yang selalu berubah

2.3.2  Filsafat dan Pendidikan

Tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah. Karena banyak di antara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam pemecahannya. Analisa filsafat terhadap masalah-masalah kependidikan tersebut, akan dapat menghasilkan pandangan pandangan tertentu mengenai masalah-masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan. Disinilah bisa kita lihat salah satu keterkaitan antara keduanya.

Filsafat juga berfungsi mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat (Alfiandry, 2010:8).

Merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan dan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Filsafat juga merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinen pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan negara.

2.3.3 Hubungan antara Manusia,Filsafat, dan Pendidikan

Filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan yang melahirkan banyak ilmu pengetahuan yang membahas sesuai dengan apa yang telah dikaji dan diteliti didalamnya. Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafat satu-satunya yan telah mencapai kebenaran atau pengetahuan. Filsafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk dijadikan pegangan manusia.

Filsafat memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan, Di samping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan. Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan. Filsafat juga  memberikan metode atau cara kepada setiap ilmu pengetahuan.

Filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan. Jadi seorang filosof adalah orang yang mencintai kebijaksanaan dan hikmat yang mendorong manusia itu sendiri untuk menjadi orang yang bijaksana dalam menjalani hidup. Filsafat memberikan pedoman hidup kepada manusia, Dengan akal, filsafat memberikan pedoman hidup untuk berpikir guna memperoleh pengetahuan. Dengan rasa dan kehendak maka filsafat memberikan pedoman tentang kesusilaan mengenai baik dan buruk

Antara ketiga komponen, yaitu manusia, filsafat, dan pendidikan sangat erat hubungannya. Manusia dilahirkan sebagai bayi yang tidak bisa melakukan tanpa bantuan orang lain. Dalam proses kehidupan, manusia akan dihadapkan dengan berbagai masalah kehidupan. Untuk dapat memilih dan melaksanakan cara hidup yang baik. Manusia memerlukan pendidikan. Dengan pendidikan manusia akan menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab (Alfiandry, 2010:12).

Peran filsafat dalam kehidupan manusia disini yaitu sebagai pola piker manusia yang yang bijaksana, arif dalam menjalani suatu kehidupan. Sesuai dengan pengertiannya dari segi etimologi. Filsafat akan mengajarkan dan melatih manusia untuk bersikap yang bijaksana dalam hidup. Terkadang dengan berfikir filsafat, sseorang akan mempunyai suatu filsafat hidup atau pandangan atau pedoman hidup yang baik. Dengan keterkaitan itu manusia akan menjadi manusia yang lebih dewasa, percaya diri, arif, bijkasana dan bertanggu ngjawab dalam menjalani kehidupan.

2.4  FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

2.4.1  Pengertian  Filsafat  Pancasila

Pancasila yang dibahas secara filosofis disini adalah Pancasila yang butir-butirnya termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang tertulis dalam alinia ke empat. Dijelaskan bahwa Negara Indonesia didasarkan atas Pancasila. Pernyataan tersebut menegaskan hubungan yang erat antara eksistensi negara Indonesia dengan Pancasila. Lahir, tumbuh dan berkembangnya negara Indonesia ditumpukan pada Pancasila sebagai dasarnya. Secara filosofis ini dapat diinterpretasikan sebagai pernyataan mengenai kedudukan Pancasila sebagai jati diri bangsa (Putra, 1988:43)

Melihat dari beragamnya  kebudayaan yang terdapat dalam bangsa Indonesia maka proses kesinambungan dari kehidupan bangsa merupakan tantangan yang besar. Demi perkembangan kebudayaan Indonesia selanjutnya dituntut adanya rumusan yang jelas yang mampu  berperan sebagai pemersatu bangsa sehingga cirri khas bangsa Indonesia menjadi nyata.

Jadi, Pancasila mengarahkan seluruh kehidupan bersama bangsa, pergaulannya dengan bangsa-bangsa lain dan seluruh perkembangan bangsa Indonesia dari waktu kewaktu. Namun dengan diangkatnya Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia tidak berati bahwa Pancasila dengan nilai-nilai yang termuat didalamnya sudah terumus dengan teliti dan jelas, juga tidak berarti pancasila telah merupakan kenyataan didalm kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila adalah pernyataan tentang jati diri bangsa Indonesia.

2.4.2 Muatan  Filsafat Dalam Pancasila Dan Hubungannya Dengan Pendidikan

Dalam Filsafat Pancasila terdapat banyak nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas dan perekat bangsa Indonesia. Filsafat yang terkandung didalam pancasila harus disoroti dari titik tolak pandangan yang holistic mengenai kenyataan  kehidupan bangsa yang beranekaragam. Ini menekankan pada semangat Bhineka Tunggal Ika, semangat ini diharapkan mendasari seluruh kehidupan bangsa Indonesia. Yaitu adanya kesatuan didalam keaneka ragaman yang ada.

Dari penjelasan itu dapat dinyatakan bahwa Bhineka Tunggal Ika adalah inti Filsafat Pancasila. Kerinduan bangsa Indonesia akan terwujudnya kesatuan didalam pengalaman akan kepelbagaian tersebut merupakan cerminan kerinduan umat manusia sepanjang zaman.

Menurut Drijarkara dalam Putra (1988:32)  Pancasila adalah inheren (melekat) kepada eksistensi manusia sebagai manusia, lepas dari keadaan  yang terntu pada kongretnya. Sebab itu dengan memandang kodrat manusia “qua valis’ (sebagai manusia), kita juga akan sampai ke Pancasila.

Hal ini digambarkan melalui sila-sila dalam Pancasila. Notonagoro (dalam noor, 1987:153) dalam kaitannya menyebutkan “ kalau dilihat dari segi intisarinya, urut-urutan lima sila Pancasila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya isi, tiap-tiap sila yang lima sila dianggap maksud demikian, maka diantara lima sila ada hubungannya yang mengikat yang satu kpada yang lain, sehingga Pancasila merupakan satukesatuan yang bulat.

Adapun hubungannya dengan pendidikan bahwa bagi bangsa Indonesia keyakinan atau pandangan hidup bangsa, dasar negara Republik Indonesia ialah Pancasila. Karenanya system pendidikan nasional wajarlah dijiwai, didasari, dan mencerminkan identitas Pancasila itu. Sistem pendidikan nasional dan system filsafat pendidikan  Pancasila adalah sub system dari system negara Pancasila. Dengan kata lain system negara Pancasila wajar tercermin dan dilaksanakan di dalam berbagai subsistem kehidupan nasional bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Tegasnya tiada system pendidikan nasional tanpa filsafat pendidikan. Jadi, jelas bahwa  tidak mungkin system pendidikan nasional Pancasila dijiwai dan didasari oleh system pendidikan yang lain, kecuali Filsafat Pendidikan Pancasila.

2.5 HUBUNGAN FILSAFAT PENDIDIKAN DENGAN PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA

            Menurut Hadawi Nawawi Sumber daya manusia (SDM) adalah daya yang bersumber dari manusia, yang berbentuk tenaga atau kekuatan (energi atau power). Sumber daya manusia mempunyai dua ciri, yaitu : (1) Ciri-ciri pribadi berupa pengetahuan, perasaan dan keterampilan (2) Ciri-ciri interpersonal yaitu hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Sementara Emil Salim menyatakan bahwa yang dimaksud dengan SDM adalah kekuatan daya pikir atau daya cipta manusia yang tersimpan dan tidak dapat diketahui dengan pasti kapasitasnya. Beliau juga menambahkan bahwa SDM dapat diartikan sebagai nilai dari perilaku seseorang dalam mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian kualitas SDM ditentukan oleh sikap mental manusia (ady, 2009).

            T. Zahara Djaafar menyatakan bahwa bila kualitas SDM tinggi, yaitu menguasai ilmu dan teknologi dan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya dan merasa bahwa manusia mempunyai hubungan fungsional dengan sistem sosial, nampaknya pembangunan dapat terlaksana dengan baik seperti yang telah negara-negara maju, dalam pembangunan bangsa dan telah berorientasi ke masa depan. Tidak jarang di antara negara-negara maju yang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan bangsanya adalah bangsa yang pada mulanya miskin namun memiliki SDM yang berkualitas.

            Manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini. Jika dilihat dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan manusia seutuhnya, maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang ada pada manusia.

            Kualitas SDM menyangkut banyak aspek, yaitu aspek sikap mental, perilaku, aspek kemampuan, aspek intelegensi, aspek agama, aspek hukum, aspek kesehatan dan sebagainya Kesemua aspek ini merupakan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh tiap individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah. Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek jasmaniah selalu ditentukan oleh ruhaniah yang bertindak sebagai pendorong dari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM berkualitas, usaha yang paling utama sebenarnya adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri, hal ini dapat diambil contoh seperti kepatuhan masyarakat terhadap hukum ditentukan oleh aspek ruhaniyah ini. Dalam hal ini pendidikan memiliki peran utama untuk mewujudkannya.

            Untuk mencerdaskan dan memajukan kehidupan suatu bangsa dan negara sesuai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan maka di adakan suatu proses pendidikan atau suatu prosen belajar yang akan memberikan pengertian, pandangan, dan penyesuayan bagi seseorang atau si terdidik kearah kedewasaan dan kematangan,dengan proses ini maka akan terpengaruh terhadap perkembangan jiwa seseorang anak didik atau peserta dan atau subjek didik kearah yang lebih dinamis baik kearah bakat atau pengalaman, moral, intelektual maupun fisik (jasmani) menuju kedewasaan dan kematangan.Tujuan akhir pendidikan akan terwujud untuk menumbuhkan dan mengembangkan semua potensi si terdidik secara teratur, apa bila prakondisi alamiah dan social manusia memungkinkan, seperti: iklim,makanan, kesehatan, keamanan dan lain sebagainya yang relatif sesuai dengan kebutuhan manusia

            Untuk memberikan makna yang lebih jelas dan tegas tentang kedewasaan dan kematangan yang ingin di tuju dalam pendidikan apakah kedewasaan yang bersifat biologis, pisikologis, dan sosiologis, maka masalah ini merupakan bidang garapan yang akan dirumuskan oleh filsafat pendidikan (Nuka, 2010).

            Disamping itu juga dari pengalaman menunjukan bahwa tidak semua manusia baik potensi jasmaninya maupun potensi rohaninya (pikir, karsa, dan rasa) berkembang sebagai mana yang diharapkan. Oleh karena itu lahirlah pemikiran manusia untuk memberikan afternatif pemecahan masalah terhadap perkembangan manusia.

            Apakah yang mempengaruhi perkembangan potensi manusia, dan mana yang paling menentukan dan dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan dengan berbagai aktivitasnya telah mampu menumbuhkandan mengembangkan potensi peserta didik sehingga bermanfaat bagikehidupan peribadi dan masyarakat sekitar
Dari urayan tadi jelaslah bahwa pendidikan adalah sebagai pelaksanaan dari ide-ide filsapat. Atau dengan perkataan lain bahwa ide filsafat telah memberikan asas sistem nilai dan atou normatif bagi peranan pendidikan yang telahmelahirkan, lembaga-lembaga pendidikan dan dengan segala aktivitasnya, sehingga dapat dikatakan bahwa filsafat pendidikan sebagai jiwa, pendoman, dan sumber pendorong adanya pendidikan. Inilah antara lain peranan filsafat pendidikan

UTUK LEBIH LENGKAP SILAHKAN DOWNLOAD DISINI

PENGANTAR ILMU EKONOMI


PENGANTAR ILMU EKONOMI

Definisi dan Metode Ekonomi

Ilmu ekonomi merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari berbagai perilaku pelaku ekonomi terhadap keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat. Ilmu ini diperlukan sebagai kerangka berpikir untuk dapat melakukan pilihan terhadap berbagai sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

Adapun tiga masalah pokok dalam perekonomian, yaitu

1.      Jenis barang dan jasa apa yang akan diproduksi?

2.      Bagaimana menghasilkan barang dan jasa tersebut?

3.      Untuk siapa barang dan jasa tersebut dihasilkan?

Ekonomi positif adalah pendekatan ekonomi yang mempelajari berbagai pelaku dan proses bekerjanya aktivitas ekonomi, tanpa menggunakan suatu pandangan subjektif untuk mengyatakan bahwa sesuatu itu baik atau jelek dari sudut pandang ekonomi. Ekonomi positif di bagi menjadi dua, yaitu ekonomi deskriptif dan ekonomi teori.

Sedangkan ekonomi normatif adalah pendekatan ekonomi dalam mempelajari perilaku ekonomi yang terjadi, dengan mencoba memberikan penilaian baik atau buruk berdasarkan pertimbangan subjektif.

Berkaitan dengan sistem ekonomi, ada tiga bentuk sistem ekonomi yang dikenal di dunia ini, yaitu:

1.      Sistem ekonomi pasar (Laissez-Faire Economy), merupakan sistem ekonomi yang berbasis pada kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan berbagai kegiatan ekonomi, seperti konsumsi dan produksi. Perekonomian akan menentukan titik keseimbangan dengan mengandalkan kemampuan pada sistem harga, yaitu tarik menarik antara permintaan dan penawaran. Keseimbangan harga serta jumlah barang dan jasa dalam perekonomian dibimbing oleh sesuatu yang tidak kelihatan (invisible hand).

2.      Sistem ekonomi terpusat (sistem ekonomi sosialis) atau disebut Command Economy, yaitu sistem ekonomi dimana pemerintah membuat semua kebijakan menyangkut produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan kata lain, dalam sistem ekonomi sosial yang murni, pemerintah mengatur semua aspek kegiatan ekonomi.

3.      Sistem ekonomi campuran yaitu gabungan dari sistem ekonomi pasar dan sistem ekonomi terpusat. Dalam sistem ekonomi campuran, kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan kegiatan ekonomi masih diakui, tetapi pemerintah ikut campur dalam perekonomian sebagai stabilisator ekonomi dengan memberlakukan berbagai kebijakan fiskal dan moneter.

Pasar dan Pemerintah dalam Ekonomi Modern

Perekonomian pasar merupakan sistem perekonomian yang mengandalkan harga sebagai variabel yang menentukan keseimbangan ekonomi. Berbagai keputusan ekonomi untuk menentukan barang dan jasa apa yang akan dibuat (What), bagaimana menghasilkannya (How) dan siapa saja yang akan mengkonsumsi barang dan jasa tersebut (for Whom), ditentukan oleh mekanisme pasar dengan bimbingan tangan gaib (invisible hand).

Secara umum pasar didefinisikan sebagai suatu mekanisme di mana penjual dan pembeli dapat menentukan harga secara bersama-sama untuk melakukan pertukaran. Pasar menentukan harga tiap barang dan jasa dalam perekonomian. Pasar dapat dikategorikan ke dalam dua besar, yaitu pasar barang dan jasa serta pasar faktor. Pasar faktor merupakan tempat interaksi antara penjual faktor produksi (sektor rumah tangga) yang memiliki tanah, modal, keterampilan dan lainnya, dengan yang meminta faktor produksi yaitu pihak perusahaan.

Pasar yang terjadi dalam perekonomian merupakan akumulasi dari berbagai pasar barang dan jasa serta pasar faktor produksi. Banyaknya jenis barang/jasa tersebut akan menimbulkan diversifikasi pekerjaan. Selanjutnya, diversifikasi pekerjaan akan menghasilkan spesialisasi, yang akan mendorong timbulnya teknologi atau cara menghasilkan barang dan jasa dengan biaya yang serendah-rendahnya.

Dalam kenyataannya, tidak semua barang dan jasa bisa dihasilkan melalui mekanisme pasar dengan ‘tangan gaibnya’. Namun terjadi persaingan yang tidak sempurna, yang akhirnya menimbulkan inefisiensi, sehingga harga yang terjadi menjadi demikian mahal atau bahkan sebaliknya dimana barang dan jasa menjadi tidak berharga. Kegagalan sistem ekonomi pasar akan menghasilkan pengaruh yang dapat merugikan perekonomian itu sendiri. Di samping akan menimbulkan pemusatan faktor produksi pada satu pihak tertentu dan mengakibatkan ketimpangan dalam pendapatan.

LEBIH LENGKAPNYA SILAHKAN DOWNLOAD DISINI

Lembaga Keuangan Bank dan Bukan Bank


Lembaga Keuangan Bank dan Bukan Bank

Uang merupakan alat pertukaran dalam sistem perekonomian. Tanpa uang, perekonomian akan sulit berkembang dan dibutuhkan berbagai kebetulan dalam proses pertukaran melalui barter. Menurut Sadono Sukirno, suatu benda bisa digunakan sebagai uang jika memenuhi syarat-syarat berikut:

1.      Nilainya tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

2.      Mudah dibawa-bawa.

3.      Mudah disimpan tanpa mengurangi nilainya.

4.      Tahan lama.

5.      Jumlahnya terbatas.

6.      Bendanya mempunyai mutu yang sama.

Selain sebagai alat tukar, uang mempunyai fungsi utama yang lain, yaitu sebagai:

1.      satuan pengukur nilai.

2.      alat penimbun kekayaan.

Seperti halnya barang atau jasa, juga terdapat permintaan dan penawaran terhadap uang. Penawaran uang dipengaruhi oleh M1 dan M2. Sedangkan permintaan uang dipengaruhi oleh seberapa besar pendapatan yang akan diterima bila uang disimpan dalam berbagai bentuk portfolio.

Bank Sentral

Lembaga keuangan dalam sistem perekonomian ada yang berbentuk bank dan ada yang berbentuk bukan bank. Perbedaan dari kedua jenis lembaga keuangan tersebut terletak pada cakupan fungsinya. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh bank, namun sangat terbatas pada lembaga keuangan bukan bank.

Secara garis besar bank diklasifikasikan ke dalam bank umum, bank sentral, dan BPR. Sementara lembaga keuangan bukan bank meliputi asuransi, pegadaian, koperasi simpan pinjam dan seterusnya.