Model Pembelajaran Ekspositori


Model Pembelajaran Ekspositori

Pendekatan ekspositori merupakan suatu pendekatan yang menekankan pada interaksi guru dengan siswa.. Secara umum langkah-langkah pembelajaran yang didasarkan pada pendekatan ekspositori dapat dijelaskan sebagai berikut : (1) guru menyiapkan materi dan perlengkapan lain yang akan disampaikan , (2) apersepsi dengan sedikit mengulangi pelajaran yang lalu (3) setelah itu guru menyampaikan konsep-konsep materi (4) guru yang kreatif akan menyiapkan perlengkapan yang mendukung seperti gambar, kaset, dan yang lain di sesuaikan dengan situasi dan kondisi (5)  guru mulai mengadakan pembelajaran, model ini yang aktif guru lebih-lebih untuk siswa SD kelas satu atau dua, anak masih malu-malu dan takut sehingga pembelajaran tampak satu arah seperti pada bagan dibawah ini, (6)guru menyimpulkan, menegaskan dan menyetel kaset yang sesuaidan memberikan tindak lanjut

Iklan

Model pembelajaran Induktif dan Deduktif


Model pembelajaran  Induktif dan Deduktif

Pendekatan Induktif

Pendekatan ini dikembangkan oleh filosof Perancis Bacon yang menghendaki penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang kongkrit sebanyak mungkin. Semakin banyak fakta semakin mendukung hasil simpulan.  Langkah-langkah yang harus  Anda tempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan induktif  yaitu: (1)  guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan induktif (2) guru menyajikan contoh-contoh khusus, prinsip, atau aturan yang memungkinkan siswa memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh, (3) guru menyajikan bukti yang berupa contoh tambahan untuk menunjang atau mengangkat perkiraan, (4)  menyimpulkan, memberi penegasan dari beberapa contoh kemudian disimpulkan dari contoh tersebut serta tindak lanjut.

Pendekatan  Dekduktif

Pendekatan deduktif merupakan pendekatan yang mengutamakan penalaran dari umum ke khusus. Langkah-langkah yang dapat Anda tempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan deduktif dijelaskan sebagai berikut (1) guru memilih konsep, prinsip, Inisiasi Pendidikan Kewarganegaraan      1 aturan yang akan disajikan, (2) guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum, lengkap dengan definisi  dan contoh-contohnya, (3)  guru menyajikan  contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan  antara keadaan khusus dengan aturan prinsip umum yang didukung oleh media yang cocok, (4) guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan umum itu merupakan gambaran dari keadaan khusus,

E-Learning


E-Learning

Inovasi dalam teknologi pembelajaran memang tidak pernah berhenti. Setiap saat pendidik yang tergabung di dalamnya berusaha untuk mengembangkan teknologi yang digunakan selama ini dan memperbaiki kelemahannya untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.
Sanjaya (2006:) memandang e–learning atau proses pembelajaran dengan media elektronik terutama internet, saat ini dianggap dapat menjadi solusi pendidikan bagi siswa yang tidak dapat hadir secara fisik ke setiap perkuliahan atau pembelajaran, namun mempunyai niat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bagi institusi pendidikan, teknologi di dalam e-learning dapat dijadikan media untuk semakin memperbaiki kualitas dalam pembelajaran jarak jauh yang seperti diterapkan di Universitas Terbuka (UT) akhir-akhir ini. E-learning juga dapat digunakan sebagai pembelajaran tatap muka yang melibatkan perangkat komputer di kelas, misalnya Pembelajaran Berbasis Komputer atau Computer Assisted Instruction (CAI).
Dukungan multimedia dan perkembangan baru di dunia web semakin membantu mewujudkan pembelajaran interaktif meskipun tidak ada pertemuan secara fisik. Hal inilah yang menjadi fokus dalam The 3rd International Conference E-Learning yang diadakan di Bangkok, belum lama ini.
Namun kesuksesan pembelajaran dalam e-learning juga terletak pada kepercayaan yang diberikan kepada siswa dan kejujuran dari setiap komponen yang terlibat di dalamnya. Awalan (e) pada e-learning sebetulnya berbicara tentang exploration (pendalaman), experience (pengalaman), engagement (keterlibatan), ease of use (kemudahan penggunaan), dan empowermen (pendayagunaan), namun juga memungkinkan untuk dieksploitasi ke arah negatif.
Kekayaan akan informasi yang sekarang tersedia di internet telah lebih mencapai harapan dan bahkan imajinasi dari para penemu sistem yang pertama. Internet awalnya diciptakan untuk kebutuhan sistem pertahanan militer supaya dapat didesentralisasikan sehingga mengurangi resiko kerusakkan total, mungkin saja hal ini bisa terjadi apabila sistem sentral komputer utama dimusnahkan.
Internet juga dapat didesentralisasikan dan diberdayakan. Dengan menggunakan internet kita dapat mengakses sumber-sumber informasi tanpa batas yang sedang berkembang secara cepat. Kita dapat berkomunikasi secara individual atau secara massa yang dapat dilakukan di mana saja di seluruh dunia hanya dalam waktu beberapa detik saja. Kita dapat menyebarkan (publish) informasi yang bisa diakses dari mana saja di seluruh dunia dalam waktu singkat sekali. Kita dapat berkomunikasi secara langsung (real time) melalui telepon dan unit video processing. Kita bisa melakukan “chat” melalui jaringan gratis “chat” yang sangat luas yaitu mIRC.

Kelebihan E-Learning

Pembelajaran dengan menggunakan e-learning mempunyai berbagai kelebihan dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional. Dengan munculnya e-learning, memberikan warna baru dalam proses pembelajaran fisika di kelas. Pengajar dalam hal ini guru Sains (Fisika) banyak menjumpai kesulitan jika di laboratoriumnya tidak tersedia alat-alat untuk praktikum. Mereka berangggapan jika tidak ada alat yang tersedia maka praktikum lebih baik tidak dilaksanakan. Tetapi jika guru menggunakan bantuan e-learning, dalam internet sudah banyak tersedia animasi interaktif yang menyediakan fasilitas alat-alat praktikum yang dapat digunakan. Guru bisa langsung online ke web yang dituju terus men-download program yang diinginkan. Alat-alat praktikum yang dirasa mahal untuk dibeli ternyata bisa diganti dengan animasi komputer yang canggih dan sederhana. Program yang sering digunakan antara lain: Macromedia Flash, Java Applet, dan lain sebagainya. Selain men-download dari internet, kita juga dapat menggunakan CD pembelajaran yang sudah banyak beredar.
Kelebihan yang paling menonjol dari pembelajaran menggunakan komputer dalam hal ini e-learning adalah kemampuan siswa untuk dapat belajar mandiri. Karena sifat komputer yang lebih personal/individu, dapat membantu siswa untuk belajar mandiri dengan atau tanpa bimbingan langsung dari gurunya. Guru dalam hal ini pembelajaran dengan e-learning, dapat melaksanakan pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung. Dengan kata lain, dengan atau tanpa gurupun pembelajaran secara mandiri tetap bisa berlangsung. Sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa ahli di bawah ini.
Darsono (2001) menyatakan bahwa prinsip memahami sendiri (belajar mandiri) sangat penting dalam belajar dan erat kaitannya dengan prinsip keaktifan. Siswa yang belajar dengan melakukan sendiri (tidak minta tolong orang lain) akan memberikan hasil belajar yang lebih cepat dalam pemahaman yang lebih mendalam. Prinsip ini telah dibuktikan oleh John Dewey dengan “lerning by doing” nya. Lebih lanjut prinsip memahami sendiri ini diartikan bahwa hendaknya siswa tidak hanya tahu secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Pembelajaran dengan menggunakan e-learning dapat menumbuhkan sikap belajar mandiri.
Arsyad (2002) menyatakan bahwa media pembelajaran dengan komputer dapat menampilkan dengan baik berbagai simulasi, visualisasi, konsep-konsep, dan multimedia yang dapat diakses user (siswa) sesuai dengan yang diinginkan sehingga visualisasi yang bersifat abstrak dapat ditampilkan secara konkrit dan dipahami secara mendalam. Maka dengan menggunakan e-learning, siswa mendapatkan kemudahan dalam mengatasi pembelajaran fisika yang banyak menampilkan visualisasi yang bersifat abstrak. Media pembelajaran ini dapat menampilkan konsep yang bersifat abstrak ke dalam konsep yang bersifat konkrit sehingga pemahaman siswa lebih mendalam.
Dalam Jurnal Physics Education, Clinch dan Richards (2002) menyatakan bahwa dalam penggunaan e-learning dengan program java applet yang didownload dari internet sangat baik dalam pembelajaran fisika untuk percobaan/praktikum. Penilitiannya membuktikan bahwa pembelajaran dengan e-learning program java applet dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memvisualisasikan gambar yang bersifat abstrak menjadi konkrit dan tidak hanya dibayangkan saja. Tampilan program dalam e-learning juga dapat digunakan untuk memancing siswa berdiskusi tentang materi atau konsep yang ditampilkan pada layar monitor.

2.2.2. Kelemahan E-Learning

Ada beberapa kelemahan dalam e-learning yang sering menjadi pembicaraan, antara lain kemungkinan adanya kecurangan, plagiasi, dan pelanggaran hak cipta. Kuldep Nagi dari Amerika, memberikan ide untuk mengaktifkan diskusi kelompok secara online dan membatasi kadaluwarsa soal-soal ujian.
Selain itu, pengajar (guru) juga harus memberikan interaksi yang responsif dan berkelanjutan untuk mengenal siswa lebih jauh dan dapat melihat minatnya, memberikan ujian berupa analisa atas suatu kasus yang berbeda, serta memintanya untuk menjelaskan logika yang menjadi analisa tersebut.
Emil Marais dan Basie von Solms dari Afrika Selatan menambahkan perlunya penyediaan alat bantu untuk membatasi akses ilegal ke dalam proses pembelajaran, baik dengan menggunakan password ataupun akses dari nomor IP (Internet Protocol) tertentu untuk mengurangi kecurangan dalam praktik e-learning.
Kelemahan yang paling mendasar dari e-learning adalah kecurangan, plagiasi, dan pelanggaran hak cipta. Sesuai data dari Microsoft Corporation, pada tahun 2006 Indonesia menduduki peringkat ke dua terbesar dalam pembajakan di dunia maya (internet) pada khususnya dan penggunaan software di PC (Personal Computer) pada umumnya. Hal tersebut membuktikan bahwa internet dalam hal ini e-learning masih banyak sekali kekurangannya. Pembelajaran dengan menggunakan e-learning juga harus membutuhkan jaringan internet untuk pembelajaran jarak jauh. Padahal tidak semua instansi memiliki jaringan internet. Program-program dalam e-learning juga membutuhkan Personal Computer (PC) dengan spesifikasi yang cukup canggih agar program bisa berjalan dengan baik. Walaupun programer sudah menyediakan fasilitas password atau pengaman tetapi tangan-tangan jahil masih banyak yang merusaknya atau membajaknya. Walaupun demikian, e-learning sebagai suatu inovasi dalam proses pembelajaran sudah memberikan warna baru cara belajar jarak jauh yang mandiri.

Pengertian Inovasi Pembelajaran


Pengertian Inovasi

Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barang kali sesuatu yang bersifat baru, unik dan menarik. Pengertian inovasi menurut beberapa ahli antara lain :

1. Menurut Essentad inovasi ini adalah proses perubahan sosial, ekonomi politik, yang telah berkembang di Eropa barat dan Amerika utara dari abad ke 17 – ke – 19 dan kemudian berkembang pula ke Amerika Selatan, Asia dan Amerika.

2. Menurut Zalman dan Ducan inovasi adalah perubahan sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan diamati sebagai suatu yang baru bagi sekelompok orang. Tetapi perubahan sosial belum tentu Inovasi.

3. Inovasi adalah gagasan, perbuatan atau sesuatu yang baru dalam konteks sosial tertentu dan pada suatau jangka waktu tertentu untuk menjawab masalah yang dihadapi. Sesuatu yang baru, mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial lain untuk sesuatu itu sudah lama dikenal tetapi belum dilakukan perubahan. Dapat disimpulkan, bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi semua perubahan belum tentu inovasi.  (Mohd.Ansyar dan H. Nurtain, ”Pengembangan dan Inovasi Kurikulum”. 1992:30).

Jadi dapat disimpulkan Inovasi Pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik hasil inovation/discovery. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah tertentu.

Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa manfaat. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang  baru  atau  lain dari biasanya, begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia dan memiliki karakteristik yang khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri untuk maju dan berprestasi. Penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar nampak bahwa, inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru baik berupa alat gagasan maupun metode. Pembelajaran dengan menggunakan metode sebagai sarana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pemblajaran

 

 

Pengertian Inovasi

Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barang kali sesuatu yang bersifat baru, unik dan menarik. Pengertian inovasi menurut beberapa ahli antara lain :

1. Menurut Essentad inovasi ini adalah proses perubahan sosial, ekonomi politik, yang telah berkembang di Eropa barat dan Amerika utara dari abad ke 17 – ke – 19 dan kemudian berkembang pula ke Amerika Selatan, Asia dan Amerika.

2. Menurut Zalman dan Ducan inovasi adalah perubahan sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan diamati sebagai suatu yang baru bagi sekelompok orang. Tetapi perubahan sosial belum tentu Inovasi.

3. Inovasi adalah gagasan, perbuatan atau sesuatu yang baru dalam konteks sosial tertentu dan pada suatau jangka waktu tertentu untuk menjawab masalah yang dihadapi. Sesuatu yang baru, mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial lain untuk sesuatu itu sudah lama dikenal tetapi belum dilakukan perubahan. Dapat disimpulkan, bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi semua perubahan belum tentu inovasi.  (Mohd.Ansyar dan H. Nurtain, ”Pengembangan dan Inovasi Kurikulum”. 1992:30).

Jadi dapat disimpulkan Inovasi Pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik hasil inovation/discovery. Inovasi diadakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah tertentu.

Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa manfaat. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang  baru  atau  lain dari biasanya, begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia dan memiliki karakteristik yang khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri untuk maju dan berprestasi. Penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar nampak bahwa, inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru baik berupa alat gagasan maupun metode. Pembelajaran dengan menggunakan metode sebagai sarana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Perlu disadari bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi yang bersifat kompleks dan timbal-balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Selayaknya siswa diberi kesempatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dan diperlakukan secara tepat dalam sebuah proses pemblajaran

Cooperatif Integrated Reading and Composition (CIRC)


Cooperatif Integrated Reading and Composition (CIRC)

CIRC merupakan suatu program komperhesif untuk pengajaran membaca dan menulis pada kelas-kelas tinggi sekkolah dasar dan sekolah menengah pertama (Maden,Stevens,& Slavin,1986). Pada, dalam mengajar membaca, guru mengajar siswa yang baru belajar pembaca dan menerapkan kelompok-kelompok membaca, mirip seperti program-program membaca tradisional. Bedanya, siswa-siswa ditempatkan ke dalam tim-tim yang tersusun dari pasangan-pasangan siswa dari dua kelompok membaca yang berbeda. Siswa-siswa dalam kelompok lain sedang bekerja dengan pasangan-pasangan mereka pada suatu rangkaian kegiatan yang melibatkan ranah kognitif, termasuk saling membacakan satu sama lain, membuat prediksi-prediksi tentang bagaimana cerita-cerita naratif akan muncul, saling menyampaikan ikhtisar cerita-cerita, menulis tanggapan-tanggapan terhadap cerita-cerita, dan praktek pengejaan, penguraian arti, dan kosa kata. Siswa bekerja dalam tim untuk menuntaskan ide-ide utama dan keterampilan-keterampilan pemahaman yang lain.

Pada kebanyakan aktivitas CIRC, siswa mengikuti urutan intruksi guru, latihan tim, asesmen awal tim, dan kuis. Siswa tidak akan diberi kuis sampai teman sesama timnya menentukan bahwa mereka siap. Penghargaan tim berupa sertifikat yang diberikan kepada tim berdasarkan kinerja rata-rata dari semua anggota tim pada semua kegiatan membaca dan menulis tersebut. Kaerena siswa bekerja pada bahan yang sesuai dengan tingkat membaca mereka, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.

Team Accelerated Instruction (TAI)


Team Accelerated Instruction (TAI)

Team Accelerated Instruction atau Team Assisted Individuallization (Slavin,Leavy,Maden,1986) memiliki persamaan dengan STAD dan TGT dalam penggunaan tim-tim pembelajaran empat anggota berkemampuan heterogen dan pemberian sertifikat untuk tim yang berkinerja tinggi.Bedanya bila STAD dan TGT menggunakan sebuah tatanan pengajaran tunggal untuk kelas,TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual.Disamping itu,bila STAD dan TGT diterapkan pada hampir semua kelas 3-4.

Pada TAI, siswa masuk dalam sebuah urutan kemampuan individual sesuai dengan hasil tes penempatan dan kemudian maju sesuai dengan kecepatannya sendiri.Pada umumnya,anggota tim bekerja pada unit-unit bahan ajar yang berbeda.Siswa saling memeriksa pekerjaan teman sesama tim dengan dipandu oleh lembar jawaban dan saling membantu dalam memecahkan setiap masalah. Tes unit akhir dikerjakan tanpa bantuan teman sesama tim dan diskor segera.

Karena siswa memiliki tanggung jawab untuk saling memeriksa pekerjaan mereka dan mengelola aliran bahan ajar,guru dapat menggunakan sebagian besar waktu pelajaran untuk mempresentasikan pelajaran kepada kelompok-kelompok kecil siswa yang berasal, dari berbagai tim yang sedang bekerja pada pokok bahasan yang sama pada urutan pelajaran matematika. Misalnya, guru dapat memanggil siswa-siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan desimal, mempresentasikan sebuah pelajaran tentang desimal, dan kemudian meminta siswa-siswa tersebut kembali ketim mereka untuk mengerjakan masalah desimal. Kemudian guru dapat memanggil siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan pecahan, dan seterusnya.

TAI memiliki dinamika motivasi sebanyak yang memiliki STAD dan TGT.Siswa terdorong dan saling membantu satu sama lain agar berhasil karena mereka ingin tim mereka berhasil. Tanggung jawab individual terjamin karena satu-satunya skor yang diperhitungkan adalah skor tes final, dan siswa mengerjakan tes tersebut tanpa bantuan teman sesama tim. Siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil karena semua siswa telah ditempatkan sesuai dengan tingkat pengetahuan awal mereka.

Bagaimana pun juga, individualisasi yang merupakan bagian dari TAI tersebut membuat TAI jelas berbeda dari STAD dan TGT. Dalam pelajaran hampir seluruh konsep dibangun diatas konsep sebelumnya. Bila konsep-konsep sebelumnya tersebut belum dikuasai, konsep-konsep berikutnya akan sulit atau tidak mungkin dipelajari seorang siswa yang tidak dapat mengurangi atau mengalilkan akan gagal memahami pembagian panjang,seorang siswa yang tidak memahami konsep-konsep pecahan akan gagal untuk memahami apakah suatu desimal itu,dan seterusnya. Dalam TAI, siswa bekerja pada kecepatan mereka sendiri, sehingga apabila mereka lemah dalam keterampilan-keterampilan prasyarat mereka, mereka terlebih dahulu dapat membangun sebuah landasan kuat berupa keterampilan prasyarat tersebut sebelum mereka belajar pokok bahasan lebih tinggi.

Jigsaw II


Jigsaw II

Jigsaw II merupakan sebuah adaptasi dari teknik Jigsaw Elliot Aronson (1978). Dalam Jigsaw II,siswa bekerja dalam kelompok empat-anggota,yang sama dengan tim-tim heterogen seperti pada STAD dan TGT. Siswa ditugasi untuk membaca bab-bab atau buku-buku kecil,umumnya ilmu-ilmu sosial,biografi,atau materi lain yang bersifat memberi informasi. Setiap anggota tim secara acak ditugasi menjadi seorang “ahli” pada beberapa aspek dari tugas bacaan tersebut. Misalnya, dalam sebuah pokok bahasan tentang Mexico,seorang siswa pada tiap tim dapat menjadi ahli dalam sejarah, yang kedua dalam ekonomi, yang ketiga dalam geografi, dan yang keempat dalam budaya. Setelah membaca bahan tersebut, para ahli dari tim-tim yang berbeda bertemu untuk mendiskusikan topik mereka,dan kemudian kembali ke timnya untuk mengajarkan topik keahliannya kepada sesama teman anggota timnya sendiri. Akhirnya,ada sebuah kuis tentang seluruh topik tersebut. Penskoran dan penghargaan tim sama seperti pada STAD.