Contoh Laporan Hasil Penelitan Tindakan Kelas Lengkap


Contoh Laporan Penelitian Tindakan Kelas

20160829_080136Laporan penelitian tindakan kelas saya susun sebagi bukti telah Melaksanakan Publikasi Ilmiah dalam bentuk karya tulis berupa laporan hasil penelitan pada bidang pendidikan di sekolah, diseminarkan dan disimpan di perpustakaan. Sehinga dapat dihitung angka kereditnya sebagai salah satu syarat untuk mengusulkan naik pangkat.

Berikut ini saya bagikan file lengkapnya laporan penelitian yang saya susun dengan judul “PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DALAM MATERI CAHAYA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 PENYARINGAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016” jika dibutuhkan silahkan untuk di DOWNLOAD disini susilo-ptk dan lampiran 

Untuk melihat secara ringkas laporan hasil penelitian saya sajikan juga dalam bentuk artikel di bawah ini. semoga bermanfaat dan tentu saya butuh masukan dan komentarnya karena apa yang saya buat ini jauh dari kata sempurna.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DALAM MATERI CAHAYA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 PENYARINGAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh:

Susilo Fitri Yatmoko

 Abstrak

 Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar siswa dalam pata pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token. Penelitan ini dilakukan di keas V  SD Negeri 6 Penyaringan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini dilatar belakangi oleh masih rendahnya hasil belajar IPA dikelas V Hal ini berdasar observasi pra siklus di ketahui nilai ulangan harian matematika pada pelajaran IPA sebelumnya nilai rata-rata kelas untuk IPA masih rendah yaitu 60.87. Nilai rata-rata ini masih dibawah kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 65. Maka dari itu perlu untuk ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token.

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V  SD Negeri 6 Penyaringan, Semester genap tahun pelajran 2015/2016 yang berjumlah 23 siswa.

Objek penelitian adalah hasil belajar IPA dalam materi cahaya melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token.  Pelaksanaan Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus selama tiga bulan. Dengan keriteria keberhasilan dalam penelitian apa bila nilai rata-rata kelas minimal 65, dan ketuntasan belajar minimal 85.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat  meningkatkan hasil belajar IPA tentang Cahaya siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016. Kesimpulan tersebut didungkung oleh hasil belajar siswa jika dilihat dari Rerata skor hasil belajar IPA siswa dari prasiklus (sebesar 60.87) ke siklus I (sebesar 69.35), dan Siklus II (sebesar 74.13). dan ketuntasan belajar siswa meningkat berturut-turut dari pra siklus 30.43, siklus I 78.26 dan siklus II 82.61. Jika dibandingkan dengan keriteria keberhasilan pada siklus II sudah memenuhi rata-rata kelas melebihi KKM diatas 65 dan kentuntasan belajar juga lebih dari 80. Maka dapat dikatakan penelitian ini telah berhasil.

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif tipe time token, dan hasil belajar IPA

 PENDAHULUAN

Model pembelajaran yang mampu mewujudkan tujuan pembelajaran IPA ini adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa untuk meningkatkan sikap positif dalam pembelajaran IPA. Siswa dapat bekerja sama dengan anggota kelompok untuk mempelajari materi, menyelesaikan tugas-tugas, persoalan yang disajikan oleh guru, dan memberikan penjelasan di dalam kelompok. Secara individu siswa mampu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah IPA, sehingga akan mengurangi (bahkan menghilangkan) rasa cemas terhadap IPA yang banyak dialami para siswa. Sementara secara sosial, siswa mampu meningkatkan kemampuan berkomunikasi, bertukar pikiran, ide dan gagasan dalam sebuah kelompok diskusi (Ibrahim, 2000). Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (dalam Ibrahim dkk, 2000) pada beberapa mata pelajaran, termasuk IPA, telah membuktikan bahwa siswa  yang belajar secara kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar secara individu. Berdasarkan hasil penelitiannya, melalui penerapan pembelajaran kooperatif tidak ditemukan pengaruh negatif pada hasil belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa, model pembelajaran kooperatif cocok diterapkan dalam pembelajaran, termasuk mata pelajaran IPA.Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaranpada siswa-siswa SD Negeri 6 Penyaringan, Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana. menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran IPA belum tercapai secara maksimal. Hal tersebut secara umum nampak dari kurangnya antusias siswa SD Negeri 6 Penyaringandalam mengikuti proses pembelajaran IPA dan rendahnya hasil belajar siswa.

Berdasarkan data yang ada, hasil belajar IPA siswa SD Negeri 6 Penyaringan tergolong rendah walaupun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan hasil belajar dalam mata pelajaran IPA, seperti melalui penyempurnaan kurikulum, mengadakan penataran bagi staf pengajar, mensuplai buku-buku yang relevan. Namun semua usaha ini belum memberikan hasil yang diharapkan. Hal ini terbukti dari perolehan hasil belajar IPA siswa kelas V, yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Menurut Nurman, Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (Nurman, 2012).

 Berpatokan pada Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) ≥ 65 pada mata pelajaran IPA, siswa kelas V pada hasil belajar pra siklus menunjukkan bahwa baru 7 siswa yang mencapai KKM di tetapkan. Hal ini menyebabkan 16 siswa perlu meningkatkan perolehan hasil belajar. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya perlu ada upaya yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

            Berdasarkan data diatas ada beberapa faktor yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya hasil belajar IPA siswa SD adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru IPA di kelas tersebut kurang optimal. Menurut Artini (2011), kurang optimalnya proses pembelajaran yang dilaksanakan bisa bersumber pada metode pembelajaran, tidak menggunakan media dalam pembelajaran, alat evaluasi yang tidak memiliki blue-print, tidak tersedia buku pelajaran yang memenuhi tuntutan kurikulum, paradigma guru yang yang menganut sistem transfer pengetahuan, tidak menganut filosofi konstruktivisme, dan guru yang sering meninggalkan kelas.

Sehubungan dengan penggunaan metode pembelajaran, seorang guru harus jeli (prigel) di dalam memilih metode pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. Menurut Puger (2004: 14), untuk meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan strategi dan metode pembelajaran yang dapat mengembangkan penanaman konsep, penalaran, dan memotivasi kegiatan belajar siswa.Salah satu metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan pemahaman, penalaran, dan memotivasi kegiatan belajar siswa adalah dengan menggunakan metode belajar kooperatif. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif, maka pengungkapan konsep-konsep dalam suatu bidang studi dapat diwujudkan melalui cara-cara yang rasional, komunikatif, edukatif, dan kekeluargaan.

Sesungguhnya dalam pembelajaran kooperatif banyak cara yang dapat dilakukan dalam berdiskusi. Salah satunya adalah menggunakan tipe time token. Tipe time token dapat membantu guru dalam mengelola kelompok belajar, sehingga siswa yang mendominasi percakapan dapat berbagi aktif dengan siswa yang malu bahkan tidak pernah berbicara sama sekali (Ibrahim dkk, 2000). Adapun kelebihan tipe time token adalah adanya  peluang pemeratan kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan pendapat/gagasan/jawaban maupun pertanyaan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan kupon bicara dalam waktu ± 10-30 detik, tanpa menghalangi aktivitas maupun kreativitas siswa yang memiliki kemampuan lebih. Siswa yang memiliki kemampuan lebih dapat menyampaikan gagasan/pendapat maupun memberikan penjelasan pada teman yang kurang mengerti di tengah kelompok. Secara tidak langsung melalui tipe time token  siswa belajar untuk bisa mendengarkan dan menghormati pendapat orang lain serta bertanggung jawab pada tugas bersama. Jadi, manfaat proses pembelajaran time token adalah selain siswa berdiskusi sesamanya, siswa juga mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kelompok. Tipe pembelajaran ini diharapkan dapat membantu siswa, khususnya siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringanberbagi aktif serta menumbuhkan komunikasi yang efektif dan kerja sama yang baik di antara anggota kelompok.

Berdasarkan uraian di atas, sangat penting dilakukan penelitian tentang model pembelajaran kooperatif dengan tipe time token dalam proses pembelajaran IPA dengan suatu usulan tindakan yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Token untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA dalam Materi Cahaya pada Siswa Kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016”.

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:Bagaimana model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat meningkatkanhasil belajar IPA siswa kelas VSD Negeri 6 PenyaringanSemester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016?

Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanpenerapan model Pembelajaran Kooperatif tipe  time tokendalam meningkatkan hasil belajarIPA siswa kelas VSD Negeri 6 PenyaringanSemester Genap Tahun Ajaran 2015 / 2016.

Selain memunculkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, model pembelajaran kooperatif tipe time token akan berpengaruh pada hasil belajar IPA siswa. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe time token dalam mata pelajaran IPA, ternyata lebih memberi peluang pada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar. Perhatian siswa terfokus pada kegiatan belajar, karena siswa akan mengalami sendiri kegiatan belajar. Penemuan konsep setelah melalui kegiatan diskusi yang melibatkan seluruh anggota kelompok akan membuat informasi yang diperoleh melekat kuat dalam memori pikiran mereka. Terfokusnya perhatian siswa dan melekat kuatnya informasi yang diperoleh inilah yang secara tidak langsung memberi pengaruh pada peningkatan hasil belajar IPA siswa.

Bertitik tolak dari kerangka berpikir demikian, dapat ditegaskan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token secara tepat dalam kegiatan pembelajaran IPA akan berpengaruh pada peningkatan hasil belajar IPA siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas. Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.

Tempat penelitian tindakan kelas ini bertempat di SD Negeri 6 Penyaringan, yang berlokasi di daerah pegunungan, beralamat di Banjar Tibu Beleng Tengah, Desa penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembarna.

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V (lima) SD Negeri 6 Penyaringan Tahun Pelajaran 2015/2016 Semester II. Dengan jumlah siswa 23 orang, 13 orang laki-laki dan 10 orang Perempuan.

            Objek penelitian adalah hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token

          Waktu yang digunakan dalam penelitian beserta penyusunan laporan penelitian ini selama 3 bulan dari bulan April-Juni. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan sesuai dengan jadwal pelajaran IPA Kelas V yaitu pada hari senin dan selasa. Berikut ini rincian jadwal penelitiannya.

Prasiklus          : Tanggal 6-11 April 2016

Siklus I            : Pertemuan ke – 1 : Hari Selasa, tanggal 12  April 2016

  Pertemuan ke – 2 : Hari Senin, tanggal 18 April 2016

  Pertemuan Ke- 3  : Hari Selasa, tanggal 19 April 2016

Siklus II          : Pertemuan ke – 1 : Hari Senin,  tanggal 25 April 2016

  Pertemuan ke – 2 : Hari Selasa, tanggal 26 April 2016

                                      Pertemuan Ke- 3  : Hari Senin, tanggal 2 Mei 2016

Untuk menganalisis data yang diperoleh maka digunakan teknik analisis data deskriptif komparatif yang digunakan untuk menganalisis data hasil belajar siswa. Dalam analisis dicari nilai rata-rata kelas, daya serap, dan ketuntasan belajar siswa berdasarkan hasil yang diperoleh siswa dalam setiap siklus. Adapun teknik analisi data tersebut adalah sebagi berikut

            Kriteria keberhasilan penelitian tindakan ini didasarkan pada pedoman kriteria / Indikator keberhasilan prestasi belajar siswa, yaitu apa bila nilai rata-rata kelas (M) minimal 65, dan ketuntasan belajar (KB) minimal 80.

 

HASIL PENELITIAN

Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan April2016 sampai dengan bulan Mei 2016 pada siswa kelas V semester genap SD Negeri 6 Penyaringan tahun pelajaran 2015/2016 untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token.

            Pembahasan difokuskan pada variabel yang diteliti yaitu hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA setelah penerapan model pmbelajaran kooperatif tipe time token.Hasil analisis data menunjukkan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe time token  dapat meningkatkan hasil belajar IPAsiswa.

            Temuan dalam penelitian ini adalah rerata skor hasil belajarIPA siswa dari prasiklus (sebesar 60.87) ke siklus I (sebesar 69.35), dan ke siklus II (sebesar 74.13),. Dan ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan dari prasiklus (sebesar 30.43), siklus I (sebesar 78.26) dan siklus II (sebesar 82.61), ternyata terjadi peningkatan yang signifikan. Untuk lebih jelasnya peneliti sajikan kedalam bentuk tabel dan diagram batang di bawah ini.

Tabel 4.7: Data Hasil Belajar IPA dari Pra Siklus Sampai Siklus II

No

Nilai tes

Pra siklus

Siklus I

Siklus II

Ket

Frekuensi

Jml

Frekuensi

Jml

Frekuensi

Jml

 

1

50

2

100

BT

2

55

7

385

2

110

BT

3

60

7

420

3

180

4

240

BT

4

65

2

130

6

390

4

260

T

5

70

3

210

4

280

4

280

T

6

75

1

75

3

225

2

150

T

7

80

1

80

3

240

2

160

T

8

85

2

170

3

255

T

9

90

4

360

T

N =

23

23

23

∑ X

1400

1595

1705

Rata-rata

60.87

69.35

74.13

Ketuntasan

30.43

78.26

82.61

Adanya peningkatan rata-rata, daya serap, dan ketuntasan hasil belajar pada pra siklus dan tes akhir baik itu pada siklus I maupun siklus II juga dapat diamati pada grafik histogram berikut ini.

Grafik 4.1. Peningkatan daya serap dan ketuntasan belajar pra siklus dengan tes akhir pada siklus I – II

Dari hasil penelitian ini diketahui beberapa temuan penting, diantaranya: (1) meningkatnya antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA, (2) meningkatnya hasil belajar IPA siswa, dan (3) terjadinya komunikasi yang multi arah, yakni antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa lainnya dalam satu kelompok, dan antara siswa dengan siswa lainnya dalam kelompok yang berbeda dalam proses pembelajaran dan (4) timbulnya pemerataan kesempatan bagi siswa dalam berbicara.

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa penerapan model pembelajaran koopertif tipe time token dalam pembelajaran IPA memberikan suasana baru dalam kegiatan belajar, kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan, siswa menjadi lebih antusias dalam mengikuti kegiatan belajar IPA, siswa lebih terpacu dalam menyampaikan jawaban/pendapat/ pertanyaan, pelaksanaan diskusi menjadi lebih terarah dan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan, menyampaikan ide/pendapat/gagasan maupun dalam menanggapi jawaban dari teman menjadi lebih merata, dan dapat menumbuhkan sikap menghargai pendapat orang lain, seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Model pembelajaran kooperatif tipe time token  terbukti menjamin keterlibatan semua siswa. Meski telah terbukti mampu mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan dalam penelitian, namun demikian dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa kendala sebagai berikut: (1) tingkat pengetahuan siswa berbeda, dan (2) waktu pembelajaran IPA yang relatif singkat (2x 35 menit).  Waktu yang singkat ini membuat peneliti tidak bisa menerapkan pembelajaran model pembelajaran yang dilakukan secara maksimal.

Selain untuk meningkatkan kerjasama dan tanggung jawab dalam kelompok, Arends (dalam Ibrahim, 2000) menyatakan tujuan lain dikembangkannya model pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan hasil belajar akademik siswa. Pernyataan tersebut memperkuat penelitian Slavin sehubungan dengan prestasi akademik siswa. Hasil penelitian Slavin (dalam Ibrahim, 2000) menunjukkan bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran individual, termasuk mata pelajaran IPA. Salah satu tipe yang digunakan dalam model pembelajaran kooperatif dalam penelitian ini adalah time token.

Time token  merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok (Sugihharto,2011). Lebih lanjut Sugihharto (2011) menyatakan tipe time token merupakan salah satu pendekatan structural dalam pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan meningkatkan perolehan hasil akademik.

            Temuan dalam penelitian telah membuktikan bahwa hasil belajar IPA siswa dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token. Dalam kelompok siswa dapat bekerjasama menemukan konsep-konsep maupun hubungan-hubungan antar konsep yang sulit dalam IPA. Keterlibatan seluruh siswa dalam penemuan konsep maupun penyelesaian tugas dalam kelompok membuat informasi yang diperoleh siswa melekat kuat dalam memori pikiran mereka. Selain itu, kesempatan yang merata bagi siswa dalam menyampaikan pendapat dalam kegiatan belajar terbukti dapat memfokuskan perhatian siswa pada kegiatan belajar yang sedang berlangsung. Terfokusnya perhatian siswa dan melekat kuatnya informasi yang diperoleh siswa mengenai konsep IPA yang dipelajarainya berpengaruh pada hasil belajar, sehingga dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token hasil belajar IPA siswa dapat ditingkatkan.

Dibalik kendala yang dijumpai, model pembelajaran kooperatif tipe time token telah memberikan sumbangan positif terhadap pembelajaran IPA, tidak hanya berdampak positif meningkatkan hasil akademik tetapi juga berdampak positif dalam aspek sosial, seperti meningkatkan kemampuan berkomunikasi, meningkatkan tanggung jawab, mampu menghargai pendapat yang disampaikan oleh orang lain, dan dapat meningkatkan disiplin diri. Dengan demikian maka tindakan ini cocok untuk ditindaklanjuti dalam pembelajaran berikutnya.

Hasil penelitian terkait hasil belajar mendukung hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitriyastutik, Heni (2012). Hasil penelitian yang berjudul:  upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan metode time token pada mata pelajaran IPA pada kelas IV SD Negeri 02 Pule Kecamatan Jatisrono Kabupaten Wonogiri tahun ajaran 2011/2012 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA siswa pada pokok bahasan bangun ruang kubus dan balok.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar IPA khususnya pokok bahasan Bangun Ruang Kubus dan Balok setelah diterapkan strategi time token dari 38,09 % pada pra siklus; 47, 6 % pada siklus I pertemuan 1; 52,28 % pada siklus I pertemuan 2; 71,42 % pada siklus II; dan 85,71% pada siklus III.  Penelitian lain yang juga sejalan dengan penelitian ini adalah   peneitian Haikal Nurseha yang berjudul: Penerapan model pembelajaran kooperatif time token untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu Kelas VII-SMP N 1 Kuta Baroe. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi time token dapat meningkatkan hasil belajar siswa, tidak hanya dalam mata pelajaran IPA melainkan dapat diterapkan pada mata pelajaran selain IPA.

PENUTUP

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan hasil yang diperoleh setelah pelaksanaan penelitian, diperoleh simpulan sebagai berikut.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat  meningkatkan hasil belajar IPA tentang Cahaya siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016. Kesimpulan tersebut didungkung oleh hasil belajar siswa jika dilihat dari Rerata skor hasil belajar IPA siswa dari prasiklus (sebesar 60.87) ke siklus I (sebesar 69.35), dan Siklus II (sebesar 74.13). dan ketuntasan belajar siswa meningkat berturut-turut dari pra siklus 30.43, siklus I 78.26 dan siklus II 82.61. Jika dibandingkan dengan keriteria keberhasilan pada siklus II sudah memenuhi rata-rata kelas melebihi KKM diatas 65 dan kentuntasan belajar juga lebih dari 80. Maka dapat dikatakan penelitian ini telah berhasil.

Iklan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DALAM MATERI CAHAYA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 PENYARINGAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DALAM MATERI CAHAYA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 PENYARINGAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016

 

 

Oleh:

Susilo Fitri Yatmoko,  M.Pd

NIP. 19880521 201101 1 010

 

Abstrak

 

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar siswa dalam pata pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token. Penelitan ini dilakukan di keas V  SD Negeri 6 Penyaringan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini dilatar belakangi oleh masih rendahnya hasil belajar IPA dikelas V Hal ini berdasar observasi pra siklus di ketahui nilai ulangan harian matematika pada pelajaran IPA sebelumnya nilai rata-rata kelas untuk IPA masih rendah yaitu 60.87. Nilai rata-rata ini masih dibawah kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 65. Maka dari itu perlu untuk ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token.

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V  SD Negeri 6 Penyaringan, Semester genap tahun pelajran 2015/2016 yang berjumlah 23 siswa.

Objek penelitian adalah hasil belajar IPA dalam materi cahaya melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token.  Pelaksanaan Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus selama tiga bulan. Dengan keriteria keberhasilan dalam penelitian apa bila nilai rata-rata kelas minimal 65, dan ketuntasan belajar minimal 85.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat  meningkatkan hasil belajar IPA tentang Cahaya siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016. Kesimpulan tersebut didungkung oleh hasil belajar siswa jika dilihat dari Rerata skor hasil belajar IPA siswa dari prasiklus (sebesar 60.87) ke siklus I (sebesar 69.35), dan Siklus II (sebesar 74.13). dan ketuntasan belajar siswa meningkat berturut-turut dari pra siklus 30.43, siklus I 78.26 dan siklus II 82.61. Jika dibandingkan dengan keriteria keberhasilan pada siklus II sudah memenuhi rata-rata kelas melebihi KKM diatas 65 dan kentuntasan belajar juga lebih dari 80. Maka dapat dikatakan penelitian ini telah berhasil.

 

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif tipe time token, dan hasil belajar IPA

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)

BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

DI SEKOLAH DASAR

 

Oleh Luh Juwita Purwati, NIM 0611031069

Jurusan Pendidikan Dasar (S1 PGSD)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe TGT berbantuan LKS dalam mata pelajaran IPA dengan tema Energi dan Perubahannya pada siswa kelas V Semester II di Sekolah Dasar No.3 Anturan Kecamatan Buleleng Tahun Ajaran 2009/2010.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) rencana tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi tindakan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD No.3 Anturan Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 13 orang siswa perempuan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, dan tes. Data hasil observasi terhadap prilaku siswa selama mengikuti pembelajaran dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif, sedangkan data hasil belajar IPA siswa yang didapatkan dari metode tes dianalisis dengan teknik deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS dengan nilai ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I 76,66% berada pada kategori tinggi (23 orang siswa yang dapat mencapai KKM) dan pada siklus II 93,3% berada pada kategori sangat tinggi (28 orang siswa yang dapat mencapai KKM). Ini berarti bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS sebesar 16,64%. Berdasarkan analisis data dan pembahasan disimpulkan bahwa  model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berbantuan LKS sangat efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD No.3 Anturan tahun ajaran 2009/2010.

Kata-kata kunci: Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar IPA, LKS

SILAHKAN DOWNLOAD DISINI

PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) DENGAN PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR


PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) DENGAN PEMANFAATAN MEDIA GAMBAR

 

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat hasil belajar dengan cara menggunakan media gambar pada siswa kelas VI semester I sekolah dasar Negeri Subuk setelah penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran. Subyek penelitian ini terfokus pada siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Subuk yang beerjumlah 20 orang siswa. Dalam pengumpulan data pada penelitian ini digunakan metode analisis deskriptif kwantitatif. Hasil belajar sebelum tindakan dilaksanakan baru mencapai 60,44 %. Apabila dibandingkan dengan PAP Skala lima berada pada katagori rendah selanjutnya pada siklus I peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Subuk kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng mencapai angka rata-rata persen (M%) = 70,77 %. Bila dibandingkan dengan PAP Skala lima berada pada katagori sedang. Pada Siklus II menunjukkan angka rata-rata persen (M%) = 88,72 % dan berada pada katagori tinggi. Pada proses pembelajaran ini terjadi peningkatan hasil belajar pada Siklus I dan Siklus II.

Kata kunci media gambar, hasil belajar.

 

1. PENDAHULUAN

Pada Era globalisasi yang khususnya tentang masalah pendidikan, pemerintah telah mengupayakan agar mutu pendidikan di Indonesia mencapai jenjang kwalitas yang baik. Hal tersebut bisa tercapai bila seluruh komponen pendidikan terkait dan terpadu, seperti : a) pengadaan buku-buku  pelajaran siswa, b) peningkatan kwalitas / mutu guru, c) sistem pengelolaan kurikulum yang relevan, serta upaya lainnya yang berkaitan dengan kwalitas pendidikan.

Secara formal guru sebagai pengelola pendidikan harus dapat mengupayakan agar terjadi interaksi antara siswa dengan komponen-komponen lainnya seperti : guru, metode, sarana dan prasarana serta lingkungan sekitarnya secara optimal.  Siswa belajar melalui informasi yang diperoleh dapat dipikirkan dan segala informasi tersebut dapat lama diingat serta dapat bertahan pada pikiran siswa. Upaya untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa, diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pembelajaran.

Hasil temuan dalam pembelajaran bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu menunjukkan bahwa rendahnya minat dan keaktifan belajar IPA antara lain tampak pada rendahnya hasil belajar IPA mereka. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa pembelajaran IPA di sekolah belum maksimal.

Penggunaan pendekatan, metode, dan strategi yang tidak tepat serta tidak disertai media pembelajaran dalam suatu proses belajar-mengajar diasumsikan merupakan salah satu faktor penentu kurang maksimalnya pencapaian tujuan belajar di sekolah. Pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh guru sebagai pengelola pembelajaran dalam memberikan penjelasan terhadap materi ajar yang terkait cenderung masih menekankan pada metode ceramah. Akibatnya anak tidak memperoleh kesempatan untuk belajar mandiri secara aktif, maka dari itu hasil belajar siswa mengalami penurunan.

Demikian juga halnya yang terjadi pada siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng tahun ajaran 2003/2004. dari pengukuran awal diketahui bahwa hasil belajar IPA mereka masih rendah yaitu rata-rata 60,44 %.

Menurut Nochi Nasution (dalam Nurlinggo, 2002:2) terdapat dua faktor yang berpengaruh pada proses pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut: a) faktor ekstern (luar) terdiri dari faktor lingkungan, dan b) faktor intern (dalam) terdiri dari kecerdasan, minat, bakat, motivasi dan kemampuan kognitif.

Keberhasilan belajar siswa secara optimal bisa terwujud bila guru menerapkan media gambar dalam pembelajaran. Apabila seorang guru melihat prestasi belajar yang belum mencapai hasil yang optimal maka diperlukan adanya perbaikan sistem pada pembelajaran. Media gambar dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. (Dirjen Dikdasmem, 1997/1998:3).

Media gambar dapat diartikan sebagai sesuatu yang melukiskan atau menggambar garis-garis sebagai kata sifat. Gambar Graphies diartikan sebagai penjelasan yang kuat atau penyajian yang efektif. Basuki Wibawa dan Parida Mukti (191 : 28) menyatakan bahwa media gambar memiliki beberapa fungsi, yakni 1) dapat mengembangkan kemampuan visual, 2) mengembangkan imajinasi siswa, 3) membantu meningkatkan penguasaan anak terhadap hal-hal yang abstrak, atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan didalam kelas, dan 4) dapat mengembangkan segala bentuk kreativitas siswa. (Darsana, 2002:59). Oleh karena itu, media ini dijadikan solusi terbaik untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VI SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu.

Berdasarkan hal tersebut diatas, masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan penggunaan media gambar dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng tahun ajaran 2003/2004 dapat meningkatkan hasil belajar siswa ?”. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dengan cara memanfaatkan media gambar, pada siswa kelas VI semester I SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu. Dengan demikian, temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi siswa, yakni siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, lebih menguasai wawasan dan keterampilan dalam belajar konsep sikap dan nilai serta dapat meningkatkan prestasi belajar khususnya dalam mata pelajaran IPA. Bagi para guru, agar dapat meningkatkan kwalitas proses dan hasil pembelajaran dengan mengupayakan penerapan model pembelajaran berbasis media dalam kegiatan belajar-mengajar serta mampu meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru dalam menjalankan tugasnya. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengambil suatu kebijakan yang tepat dalam kaitannya sebagai upaya dan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien di sekolah.

 

2. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng dengan jumlah siswa sebanyak 20 orang. Pengambilan siswa kelas VI SD Negeri Subuk sebagai subjek penelitian ini disebabkan oleh beberapa hal, yakni 1) siswa selalu bermain-main pada proses pembelajaran, 2) minat anak pada pembelajaran IPA sangat kurang, 3) siswa sering datang terlambat, dan 4) siswa sering mengantuk saat pelajaran berlangsung. Dengan keadaan siswa semacam itu maka dari 20 orang siswa tersebut perlu diberikan bantuan berupa tindakan yang disebut penelitian tindakan kelas (PTK).

Pada proses penelitian ini peneliti menggunakan model penelitian tindakan kelas (PTK) atau dikenal dengan sebutan Classroom Action Research (CAR) Proses penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tersebut agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara profesional.

Model penelitian kelas ini dikembangkan dari model Kemis dan MC Toggart (Nurlinggo, 2002:27). Penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam dua Siklus, dan setiap Siklus terdiri dari empat tahap kegiatan yaitu : 1) Perencanaan, meliputi : mengidentifikasi tentang daya serap siswa, menyusun persiapan mengajar dan lembaran observasi, serta menyiapkan tes hasil belajar, 2) Pelaksanaan, yakni melaksanakan proses pembelajaran dengan penggunaan media gambar yang meliputi : (a) Kegiatan awal yaitu guru melakukan apersepsi, (b) Kegiatan inti meliputi : guru memancangkan media gambar di papan, guru menjelaskan pokok bahasan dengan keterkaitan penggunaan media gambar, siswa menyimak, guru melontarkan beberapa pertanyaan kepada siswa terkait penjelasan tadi, siswa menjawab dengan menunjukkan pada media, (c) Kegiatan akhir yakni guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, guru menindak lanjuti, dan guru memberikan evaluasi atau tugas. 3) Pemantauan dan Evaluasi, yakni pemantauan terhadap kesesuaian cara guru dalam penggunaan media gambar  dengan materi ajar dan prilaku anak dalam proses belajar-mengajar, serta melakukan evaluasi dengan tes, dan 4) Refleksi, yakni peneliti menganalisa, mengkaji dan merenungkan hasil tindakan dan evaluasi. Ikthisar model rancangannya seperti berikut :

Gambar Rancangan Penelitian

Metode dan alat pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan metode analisis deskriptif kwantitatif. Metode tes ini digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa dengan instrumen berupa tes akhir program yang dibuat atau disusun oleh peneliti. Setelah seluruh data dalam penelitian terkumpul maka selanjutnya dilakukan analisis data. Dalam menganalisis data digunakan metode analisis deskriptif kwantitatif. Metode ini dipergunakan untuk menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI SD Negeri Subuk Kecamatan Busungbiu. Perencanaan metode ini meliputi : 1) menyusun tabel distribusi frekwensi, 2) menghitung Mean (M), 3) membandingkan Mean dengan kriteria PAP skala lima. Ini dimaksudkan untuk memperoleh hasil simpulan yang terpercaya.

UNTUK LEBIH LENGKAPNYA SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI

 

Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas V Semester I


Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas V Semester I

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Peningkatan hasil belajar khususnya di Sekolah Dasar tidak akan terjadi tanpa adanya kerjasama  dari berbagai pihak. Pendidikan dan pengajaran dapat berhasil sesuai dengan harapan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berkaitan dan saling menunjang. Faktor yang paling menentukan keberhasilan pendidikan / pengajaran adalah guru, sehingga guru sangat dituntut kemampuannya untuk menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa dengan baik, untuk itu guru perlu mendapatkan pengetahuan tentang metode dan media pengajaran yang dapat di gunakan dalam proses belajar mengajar.

Dari hasil pengamatan proses pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, ternyata belum sepenuhnya melibatkan fisik dan mental siswa. Sehingga dalam proses pembelajaran terkesan siswa kurang aktif dan guru-guru, dalam proses pembelajaran kurang memantapkan penggunaan metode yang telah dipelajari dan jarang sekali menggunakan media. Sehingga hasil belajar yang di peroleh siswa sangat rendah mencapai skor 5,2. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata ulangan yang telah dilaksanakan di kelas V semester I. Rendahnya hasil belajar ini tidak jauh berbeda dengan data yang diperoleh pada saat di kelas IV semester I dan II tahun pelajaran 2008-2009. Padahal Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong telah menetapkan standar ketuntasan minimal yaitu 60, dari hasil tersebut menandakan siswa kurang memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan hasil observasi diperoleh informasi bahwa rendahnya hasil belajar siswa kelas V tersebut dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Kurangnya partisipasi siswa dalam pembelajaran di kelas. Kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk bertanya mengenai materi pelajaran yang belum dimengerti tidak dimanfaatkan dengan baik oleh siwa.
  2. Guru mengajar dengan menggunakan metode yang monoton yaitu metode ceramah, sehingga siswa cenderung bosan dalam pembelajaran.
  3. Aktifitas siswa dalam menjawab, menyelesaikan tugas-tugas masih sangat kurang.

Dengan kondisi seperti itu dipandang perlu diadakan perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa, salah satu cara untuk meningkatkan pelaksanaan proses pembelajaran, guru harus mampu memilih dan menggunakan metode yang tepat yaitu metode demonstrasi dan media pengajaran.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian yang berjudul “ Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas V Semester I SD Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, Tahun Pelajaran 2009-2010”.

C. IDENTIFIKASI MASALAH

Identifikasi masalah sangat erat kaitannya dengan masalah apa yang ingin dikaji. Identifikasi masalah pada  penelitian ini antara lain :

1.      Kurangnya perhatian guru terhadap pentingnya penggunaan penerapan metode demonstrasi dengan media benda asli dalam kegiatan pembelajaran IPA.

2.      Berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa adalah minat siswa rendah dalam belajar IPA, kurangnya sarana dan prasarana belajar, dan siswa tidak memiliki cara belajar yang baik.

D. PEMBATASAN MASALAH

Sejalan dengan hasil identifikasi masalah di atas, maka dalam penelitian ini permasalahan yang akan diteliti adalah; Penerapan Metode Demonstrasi Dengan Media Benda Asli Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Semester I SD Negeri 1Mayong.

E. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah, Apakah ada peningkatan hasil belajar setelah diterapkan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas V semester I Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, Tahun Pelajaran 2009-2010?

F. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian tindakan kelas ini, adalah :

Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setelah diterapkan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli dalam mata pelajaran IPA siswa kelas V semester 1 SD Negeri 1 Mayong tahun pelajaran 2009-2010.

G. MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis :

1.      Manfaat Teoritis

Secara teori hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan berharga dalam upaya mengembangkan konsep pembelajaran atau strategi belajar mengajar dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

2.      Manfaat Praktis

    1. Bagi siswa kelas V di Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong, Kecamatan Seririt, akan terdorong untuk meningkatkan hasil belajar dalam Ilmu Pengetahuan Alam melalui penerapan metode demonstrasi dengan media benda asli.
    2. Bagi guru pengajar Ilmu Pengetahuan Alam kelas V dapat meningkatkan profesionalnya dalam pengelolaan proses pembelajaran dengan bahan pelajarannya.
    3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga bagi kepala sekolah, untuk mengambil kebijakan yang tepat dalam kegiatan pengajaran dengan memanfaatkan model pembelajaran, guna menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif, efektif dan efesien bagi para guru-guru di Sekolah Dasar.

H. KAJIAN PUSTAKA

1. Hasil Belajar Siswa

Setiap akhir program pembelajaran selalu diadakan evaluasi dengan maksud untuk mengetahui hasil belajar siwa karena hasil belajar yang diperoleh siswa dapat menunjukkan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan hasil belajar di bawah ini akan diuraikan mengenai pengertian hasil belajar, ciri-ciri hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar.

a. Pengertian Hasil Belajar

Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar atau belajar” (Dimyati dan Moedjiono, 1992 : 40). Hasil belajar dapat berupa pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat yang diperoleh oleh setiap siswa setelah proses belajar. Di dalam proses belajar siswa mengerjakan hal-hal yang akan dipelajari sesuai dengan tujuan dan maksud belajar. “Hasil belajar akan dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan sikap dan nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi” (Tabrani Rusyan, 1989;8).

Dari beberapa pendapat tentang hasil belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengalami interaksi proses pembelajaran melalui evaluasi belajar IPA yang dilakukan dengan tes yang dijadwalkan. Kemajuan yang diperoleh siswa tidak hanya berupa ilmu pengetahuan, tetapi juga berupa sikap dan kecakapan atau keterampilan khususnya dalam mata pelajaran IPA.

b. Ciri-ciri Hasil Belajar

Menurut Karti Soeharto (1995 : 108), belajar ditandai dengan ciri-ciri yaitu : “(1) disengaja dan bertujuan, (2) tahan lama, (3) bukan karena kebetulan, dan (4) bukan karena kematangan dan pertumbuhan”.

Dengan pengalaman yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran, maka akan terjadi perubahan, baik perubahan pada aspek kognitif, aspek afektif maupun aspek psikomotor. Perubahan ketiga aspek tersebut di atas merupakan ciri-ciri hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat A.A. Gede Agung ( 1997 : 78) yang mengatakan bahwa:

Ciri-ciri hasil belajar mengandung tiga hal, yaitu: kognitif, afektif, psikomotor. Hasil belajar kognitif merupakan kemajuan intelektual yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar dengan ciri-ciri sebagai berikut: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Hasil belajar afektif adalah perubahan sikap atau kecendrungan yang dialami siswa sebagai hasil belajar sebagai berikut: adanya penerimaan atau perhatian adanya respon atau tanggapan dan penghargaan.

Hasil belajar psikomotor merupakan perubahan tingkah laku atau keterampilan yang dialami siswa dengan ciri-ciri: keberanian menampilkan minat dan kebutuhannya, keberanian berpartisifasi di dalam kegiatan penampilan sebagai usaha/ kreatifitas dan kebebasan melakukan hal di atas tanpa tekanan guru atau orang lain.

Berdasarkan cici-ciri hasil belajar di atas maka tugas guru selain mengajar juga mendidik dan melatih siswa agar menjadi siswa yang cerdas, bersikap baik dan memiliki keterampilan-keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA)

Ilmu Pengetahuan Alam sebagai salah satu mata pelajaran di Sekolah dasar, merupakan program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghagai Tuhan Yang Masa Esa. Sejalan dengan itu maka hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar menurut Hidayat (2001 : IV) dapat di uaraikan sebagai berikut:

(1) siswa memiliki pemahaman tentang konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari; (2) Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitar; (3) Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari; (4) mengenal dan dapat memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar.

Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar dapat diuraikan sebagai hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dapat melatih pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPA, melatih keterampilan siswa dalam menggunakan alat teknologi sederhana dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan alam sekitar yang pada akhirnya dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar siswa selalu bervariasi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-foktor tersebut adalah faktor dalam dan faktor luar individu. “Faktor dalam meliputi : keadaan, motifasi, minat, intelegensi dan bakat siswa. Foktor luar meliputi : fasilitas belajar, waktu, media belajar, dan cara mengajar” (Soemadi Suryabrata 1981 :7). Selain itu, hasil belajar dapat pula dipengaruhi oleh faktor psikologi seperti kecerdasan, motivasi, perhatian, pengindraan, cita-cita peserta didik, kebugaran fisik dan mental, serta lingkungan yang menunjang ( Tabrani Rusyan, 1993 : 32).

Untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik, dalam proses pembelajaran maka guru harus memahami keadaan siswa, baik keadaan fisik, keadaan psikhis, maupun lingkungan atau latar belakang kehidupan siswa.

2. METODE PENGAJARAN

Metode pengajaran berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pengajaran. Di bawah ini diuraikan tentang pengertian metode pengajaran dan macam-macam metode pengajaran.

a. Pengertian Metode

Dalam hal ini metode berasal dari kata “Methodos” yang secara etimologis, berasal dari bahasa latin yaitu “Methodos”. Secara etimologis kata methodos berasal dari kata metha yang artinya dilalui dan hodos yang artinya jalan. Jadi methodos artinya jalan yang dilalui. Secara umum, “metode artinya jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan” (A.A. Gede Agung, 1997: 1).

Dalam pembelajaran metode merupakan suatu cara atau tehnik yang di gunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga dapat mempermudah pencapaian pesan dan mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan.

b. Jenis-jenis metode Pengajaran

Ada sejumlah metode pengajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Berikut ini akan diuraikan tentang jenis-jenis metode pengajaran yang dikutip dari beberapa sumber.

A. Tabrani Rusyan ( 1993 : 63-117) menyatakan bahwa “Jenis-jenis Metode Pengajaran terdiri dari metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dokumentasi, metode AVA, narasumber, wawancara, karyawisata, survei, studi lapangan, proyek pelayanan masyarakat kerja, pengalaman, simulasi, eksperimen, disceoveri, dan penggunaan buku-buku pelajar”.

Pada bagian lain juga diuraikan jenis-jenis metode yang dinyatakan oleh Soetomo (1993 : 147) bahwa “Metode pengajaran terdiri dari metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, demonstrasi, eksperimen dan pemecahan masalah”.

Dari uraian di atas terlihat adanya berbagai jenis metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, akan tetapi harus dipilih sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Untuk itu dalam penelitian ini akan digunakan 1 macam metode yaitu metode demonstrasi secara lebih mantap karena metode tersebut sesuai dengan pokok bahasan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas V Semester I Sekolah Dasar Negeri 1 Mayong.

Disamping itu dalam pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam selain berceramah untuk mengimpormasikan konsep, perlu diadakan tanya jawab untuk mengetahui tingkat suatu konsep dan agar pemahaman siswa lebih melekat tentang suatu konsep.

Pada bagian ini akan diuraikan tentang pengertian metode demonstrasi, kelebihan metode demonstrasi, kelemahan metode demontrasi dan penggunaan metode demonstrasi.

1).  Pengertian Metode Demonstrasi

Semua metode pengajaran dapat mewakili pencapaian tujuan pendidikan. Pemakaiannya ditentukan oleh tujuan dan isi materi yang akan di ajarkan. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, metode demonstrasi sering digunakan karena materi-materi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sebagaian besar menggunakan media yang harus didemonstrasikan.

Menurut A.Tabrani Rusyan (1993 : 106) mengatakan bahwa “Metode Demonstrasi adalah merupakan pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan”. Dalam hal ini dengan demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang sesuai dengan harapan.

Pakar lain mengemukakan bahwa “Demonstrasi adalah cara mengajar dimana seorang guru menunjukkan atau memperlihatkan suatu proses” (Roestyah,N.K, 1991 : 83).

Sehubungan dengan pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa metode demonstrasi adalah menunjukkkan proses terjadinya sesuatu, agar pemahaman siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Dalam demonstrasi siswa dapat mengamati apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung.

2). Kelebihan Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi sering digunakan karena merupakan metode yang sangat baik dan efektif dalam menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan yang sifatnya pemahaman. Metode demonstrasi memiliki kelebihan-kelebihan yaitu :

(1) Siswa akan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai proses sesuatu yang telah didemonstrasikan; (2) Perhatian siswa akan lebih mudah dipusatkan pada hal-hal yang penting yang sedang dibahas; (3)  Dapat mengurangi kesalahan pengertian antara anak dan guru bila di bandingkan dengan ceramah dan tanya jawab, karena dengan demonstrasi siswa akan dapat mengamati sendiri proses dari sesuatu; (4) Akan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan apa yang telah di demonstrasikan ( Soetomo, 1993 : 162).

Dengan uraian di atas ditegaskan kembali bahwa dengan demonstrasi akan dapat mengaktifkan siswa, dapat menghindari kesalahan pengertian dari siswa dan guru, dan siswa akan merasa lebih terkesan karena siswa mengalami sendiri. Sehingga akan lebih mendalam dan lebih lama disimpan dalam pikiran tentang sesuatu proses yang terjadi.

3). Kelemahan Metode Demonstrasi

Di samping memiliki beberapa kelebihan, maka metode demonstrasi juga tidak terlepas dari kemungkinan-kemungkinan kurang efektif apabila digunakan. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat membuat demonstrasi kurang efektif menurut Soetomo (1993 : 163) antara lain :

(1)   Apabila demonstrasi tidak digunakan secara matang maka bisa terjadi demonstrasi banyak kesulitan; (2)   Kadang-kadang sesuatu yang di bawa ke kelas untuk didemonstrsikan terjadi proses yang berlainan dengan proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya; (3)  Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak diikuti secara aktif oleh para siswa untuk mengamati; (4) Demonstrasi akan merupakan metode yang kurang efektif bila alat yang didemonstrasikan itu tidak dapat di amati secara seksama oleh siswa.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan metode demonstrasi maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti: guru harus mempersiapkan sesuatu yang akan digunakan dalam pelaksanaan demonstrasi, menjelaskan tujuan demonstrasi kepada siswa, memperhatikan situasi dan kondisi yang dapat mempengaruhi jalannya demonstrasi dan selama demonstrasi hendaknya semua siswa dapat memperhatikan jalannya demonstrasi.

4). Penggunaan Metode Demonstrasi

Penggunaan metode demonstrasi ini mempunyai tujuan agar siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu. Penggunaan metode demonstrasi menunjang proses interaksi belajar mengajar di kelas karena dapat memusatkan perhatian siswa pada pelajaran, meningkatkan partisipasi aktif siswa untuk mengembangkan kecakapan siswa dan memotvasi siswa untuk belajar lebih giat (Roestyah N.K, 1991 : 84).

Dengan kata lain penggunaan metode demonstrasi bertujuan untuk mewujudkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, menghindari kesalahan dalam memahami konsep-konsep dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, serta dapat melatih kecakapan siswa dalam menganalisa sesuatu yang sedang dialami atau didemonstrsikan.

3. MEDIA PENGAJARAN

Media merupakan alat bantu dalam proses pembelajaran yang dapat menciptakan kondisi belajar yang merangsang siswa agar mau belajar, sehingga proses belajar mengajar dapat efektif dan efisien. Di bawah ini akan diuraikan pengertian media pengajaran dan jenis-jenis media pengjaran sebagai berikut :

a. Pengertian Media Pengajaran

Sebagai salah satu komponen yang dapat menentukan keberhasilan proses pembelajaran, adalah media pengajaran, karena media pengajaran merupakan alat bantu menyampaikan informasi.

Arif S. Sadiman (1990 : 6) mengatakan bahwa “media adalah berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar”.

H. Mohamad Ali (1992 : 89) berpendapat bahwa “media pengajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untukmenyalurkan pesan, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar”.

Berdasarkan uraian beberapa pendapat di atas dapat dirangkum bahwa media pengajaran adalah sesuatu yang dijadikan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan atau informasi yang dapat berupa alat bantu dalam proses pembelajaran yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

b. Jenis-jenis Media Pengajaran

Jenis media bermacam-macam, untuk itu sebelum menggunakan media tersebut perlu dikenali dan dipahami media mana yang dapat digunakan untuk materi tertentu yang akan dipelajari dalam suatu proses pembelajaran.

Berikut ini akan diuraikan beberapa pendapat yang menyangkut jenis-jenis media.

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (1991 : 3) mengatakan bahwa :

“Media pengajaran terdiri dari : (1) Media grafis atau media dua dimensi yang meliputi gambar/ foto grafis, bagan atau diagram, foster dan komik; (2) Media tiga dimensi dalam bentuk model yaitu model padat, model penampang, model susun, model kerja, mock up, diaroma; (3) Media proyeksi seperti slide, film, strips, penggunaan OHP; (4) lingkungan”.

Selain media-media yang disebutkan di atas masih banyak jenis-jenis media lain yang belum disebutkan. Media-media tersebut adalah:

(1) Alat visual dua dimensi pada bidang yang tidak transparan meliputi gambar yang diproyeksikan, grafis, diagram, bagan, pita, poster, gambar hasil cetak miring, foto gambar sederhana dengan garis dan lengkung; (2) Berbagai visual tiga dimensi yang meliputi benda asli, model barangcontoh, mock up, diorama, pameran dan bak pasir; (3) Berbagai macam papan, papan tulis, papan magnet dan peragaan; (4) Alat-alat audio, tipe recorder dan radio; (5) Alat-alat audio visual, murni, film suara; (6) demonstrasi dan widyawisata (A.Tabrani Rusyan, 1993 : 93).

Disamping itu sebelum digunakan sangat perlu dipahami ciri-ciri bahan media agar tidak mengalami hambatan dalam penerapannya sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam penelitian ini akan digunakan media benda asli sebagai alat perantara dalam penyampaian pesan.

Media Benda Asli

dalam proses pembelajaran, benda asli dapat digunakan sebagai media. Agar lebih memahami tentang media benda asli di bawah ini akan diuraikan tentang pengertian media benda asli, kelebihan media benda asli, kelemahan media benda asli dan penggunaan media benda asli.

1.      Pengertian Media Benda Asli

Menurut Ibrahim dan Nana Syahodih (1992 : 3) mengatakan bahwa “media benda asli termasuk media atau sumber belajar yang secara spesifik dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk mempermudah radar belajar yang formal dan direncanakan”. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999; 202) menyatakan “media benda asli merupakan benda yang sebenarnya yang membantu pengalaman nyata peserta didik dan menarik minat dan semangat belajar sisiwa”.

Dengan menggunakan media benda asli akan memberikan rangsangan yang amat penting bagi siswa untuk mempelajari berbagai hal terutama menyangkut pengembangan keterampilan tertentu.

2.      Kelebihan Media Benda Asli

Media benda asli memiliki kelebihan atau keunggulan. Kelebihan tersebut antara lain: (1) Dapat membantu guru dalam menjelaskan sesuatu kepada peserta didik; (2) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari situasi yang nyata; (3) Dapat melatih keterampilan siswa menggunakan alat indra (A.Tabrani, Rusyan, 1993:199).

Berdasarkan uraian di atas dipertegas kembali bahwa kelebihan media benda asli dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu menggunakan obyek-obyek nyata.

3.      Kelemahan Media Benda Asli

Media benda asli selain memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan media benda asli yaitu :

(1) Membawa siswa ke berbagai tempat di luar sekolah, kadang-kadang      mengandung resiko dalam bentuk kecelakaan dan sejenisnya; (2) Biaya yang diperlukan untuk mengadakan berbagai obyek nyata kadang-kadang tidak sedikit apalagi kemungkinan kerusakan dalam menggunakannya; (3)  Tidak selalu memberikan gambaran dari obyek yang seharusnya (R.Ibrahim dan Nana Syahodih, 1992/1993 : 82).

Kelemahan-kelemahan yang diuraikan di atas hendaknya dapat diatasi dengan cara menggunakan media benda asli yang ada di sekitar lokasi sekolah yang dapat dijadikan penunjang dalam proses pembelajaran, di sesuaikan dengan pelajaran dan berusaha membawa benda asli ke kelas yang dapat digunakan untuk menjelaskan materi dalam lingkup kelas.

4.      Penggunaan Media Benda Asli

Salah satu komponen yang juga dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran adalah media pembelajaran. Karena media pembelajaran mampu menyampaikan pesan atau informasi, baik dari guru kepada siswa maupun media itu sendiri kepada guru maupun siswa. Media benda asli mempunyai kegunaan sebagai berikut :

(1)   Memperjelas perjanjian pesan agar tidak selalu bersifat verbalitas; (2) Mengawasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra; (3) Dengan menggunakan media secara tepat mengatasi sikap positif  anak didik; (4) Media dapat memberikan perangsang yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama pada anak didik (Arief  S. Sadiman, 1990 : 16).

Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa penggunaan media pada saat proses pembelajaran berlangsung, akan lebih baik dari pada berceramah saja karena media pendidikan/ pengajaran dapat membantu untuk memperjelas pesan yang kita sampaikan, merangsang siswa untuk memperoleh pengalaman yang sama dan dapat menarik minat siswa untuk belajar. Sehingga dengan penggunaan media tersebut siswa menjadi lebih giat belajar dan mempunyai pengalaman serta persepsi yang sama tentang suatu konsep yang dipelajari.

4. KERANGKA BERPIKIR

Berdasarkan landasan teori yang dikemukakan, maka kerangka berpikir dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.      Hubungan penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli pada mata pelajaran IPA.

Penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli sangat cocok digunakan untuk menyampaikan informasi tentang konsep-konsep IPA dan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang suatu konsep perlu dilakukan tanya jawab, agar tidak terjadi kesalahan konsep maka diperlukan suatu pembuktian dengan suatu proses melalui demonstrasi dengan menggunakan media benda asli yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan didemonstrasikan.

2.      Hubungan penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan media benda asli untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA.

Banyak pengaruh sikap terhadap kegiatan keberhasilan belajar salah satunya adalah metode dan model pembelajaran yang digunakan. Hubungan penerapan metode demonstrasi dan media benda asli dengan hasil belajar sangat erat dalam artian, dengan penerapan metode demonstrasi dan media benda asli dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, jika dalam proses penerapan metode demonstrasi dan media benda asli betul-betul dapat diterapkan sesuai dengan langkah-langkah dari penerapan masing-masing metode tersebut. Selain itu sikap dapat menentukan prestasi belajar seseorang memuaskan atau tidak. Sikap yang dimaksud adalah minat, keterbukaan pikiran, prasangka dan kesetiaan. Sikap yang positif terhadap mata pelajaran merangsang cepatnya berlangsung kegiatan belajar. Sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima dan menolak suatu objek sebagai sesuatu yang berguna. Sikap merupakan sesuatu yang sangat rumit yang mengandung komponen yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

5. HIPOTESIS

Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis / dugaan sementara sebagai berikut :

Jika penerapan metode demonstrasi dengan media benda asli dalam pembelajaran IPA dapat berjalan dengan efektif dan efesien, maka diduga atau ditafsirkan hasil belajar siswa akan cenderung meningkat.

I.  METODELOGI PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian tindakan kelas ( PTK ). Rangkaian kegiatan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini mengacu pada pedoman PTK dari Stephen Kemmis dan Robin MC. PTK sangat erat hubungannya dengan praktek pembelajaran yang dihadapi guru. Tujuan melakukan PTK yaitu untuk meningkatkan dan memperbaiki praktek yang seharusnya dilakukan oleh guru, sehingga guru akan lebih banyak berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan alternatif sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pembelajaran dari pada perolehan pengetahuan umum dalam bidang pendidikan yang dapat digeneralisasikan.

Ada beberapa keunggulan, ketika seorang guru melakukan penelitian dengan menggunakan metode tindakan, yaitu sebagai berikut :

1.      Mereka tidak harus meninggalkan tempat kerjanya.

2.      Mereka dapat merasakan hasil dari tindakan yang telah direncanakan.

  1. Bila treatment ( perlakuan ) dilakukan pada responden maka responden dapat merasakan hasil treatment ( perlakuan ) dari penelitian tindakan kelas. Tiga keunggulan dari penelitian tindakan kelas ini, tidak dimiliki oleh penelitian dengan metode penelitian lain.

2. Karakteristik Subyek Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di SD No.1 Mayong Kecamatan Seririt pada siswa kelas V yang berjumlah 20 orang, yang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan.

3. DEFINISI OPERASIONAL

  1. Metode demonstrasi adalah menunjukkkan proses terjadinya sesuatu, agar pemahaman siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Dalam demonstrasi siswa dapat mengamati apa yang diperlihatkan guru selama pelajaran berlangsung.
  2. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar seseorang setelah mengalami interaksi proses pembelajaran melalui evaluasi belajar selama satu periode tertentu, dan melatih pemahaman siswa terhadap konsep-konsep IPA, melatih keterampilan siswa dalam menggunakan alat teknologi sederhana dalam memecahkan suatu masalah yang berkaitan dengan alam sekitar yang pada akhirnya dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Hasil belajar dapat berupa pengetahuan (kognitif), tingkah laku atau sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor), yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan seseorang dari suatu perbuatan belajar, atau hasil belajar merupakan kecakapan nyata yang dicapai siswa dalam waktu tertentu.

4.   Rancangan Pelaksanaan Penelitian

“Penelitian tindakan kelas ini adalah penelitian yang dimaksud untuk memperbaiki pembelajaran” (Kasihani Kasbolah, 1998; 12). Penelitian tindakan kelas ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus, dimana masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, meliputi; 1)tahap perencanaan, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap evalasi/observasi, dan 4)tahap refleksi.

Masing-masing tahapan ini secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

Siklus ke n

keterangan:

1.    Rencana tindakan

2.    Pelaksanaan tindakan

3.    Pemantauan dan Evaluasi

4.    Refleksi dan Revisi

 

a. Rencana Penelitian Tindakan Kelas Siklus I

1. Rencana Penelitian

Hal-hal yang perlu disampaikan adalah; 1) menyusun persiapan mengajar sesuai dengan pokok bahasan yang disajikan dalam setiap pertemuan, 2) menyiapkan media sesuai dengan pokok bahasan, 3) menentukan metode mengajar, dan 4) menyiapkan alat penelitian.

2. Tindakan

Paada tahap ini, penelitian melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Struktur waktu diatur sebagai berikut; apersepsi 5 menit, kegiatan inti 45 menit, evaluasi 20 menit, dan tindak lanjut 5 menit. Maka waktu keseluruhan menjadi 75 menit yang dilaksanakan pada satu kali pertemuan.

3. Evaluasi

Pada setiap akhir pertemuan/ akhir siklus dilakukan evaluasi dengan pemberian tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa sebanyak 3 kali tes yaitu: tes pertama materi pertemuan I-II, tes kedua materi pertemuan III dan tes katiga materi pertemuan IV dan V.

4. Refleksi

Refleksi ini dilakukan untuk mengkaji hasil tindakan pada siklus I mengenai hasil belajar IPA. Hasil kajian tindakan siklus I selanjutnya untuk dipikirkan serta ditetapkan beberapa alternative tindakan baru yang diduga lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPA. Tindakan ini ditetapkan menjadi tindakan baru pada siklus II.

b. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas Siklus II

1. Rencana Penelitian

Beberapa hal yang perlu disiapkan yaitu; 1) menyusun persiapan mengajar sesuai dengan pokok bahasan yang disajikan, 2) menyiapkan media sesuai dengan pokok bahasan, 3) menentukan metode mengajar, dan 4) menyiapkan alat penelitian.

2. Tindakan

Penelitian melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan jadwal dan merencanakan alokasi waktu seperti; apersepsi 5 menit, kegiatan inti 45 menit, evaluasi 20 menit, dan tindak lanjut 5 menit. Maka keseluruhan waktu menjadi 75 menit yang dilaksanakan pada satu kali pertemuan.

3. Evaluasi

Pada setiap akhir pertemuan/ akhir siklus dilakukan evaluasi dengan pemberian tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa sebanyak 3 kali yang rinciannya sebagai berikut: tes pertama materi dalam pertemuan I-II, tes kedua materi pertemuan III –IV,tes katiga materi dalam pertemuan V.

4. Refleksi

Penelitian hasil observasi atau evaluasi penellitian tindakan kelas pada siklus II mendapat hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu meningkatkan hasil belajar siswa.

5. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

Secara fungsional kegunaan instrumen penelitian adalah untuk memperoleh data yang diperlukan ketika peneliti sudah menginjak pada langkah pengumpulan informasi di lapangan. Pada penelitian PTK ini data dikumpulkan dengan menggunakan metode Tes.

Metode Tes

Metode tes adalah cara memperoleh data yang berbentuk tugas yang harus dikerjakan oleh seseorang atau kelompok orang yang dites. Dari tes dapat menghasilkan skor yang nantinya dibandingkan dengan kriteria tertentu sehingga memperoleh nilai (A.A. Gede Agung,1997 : 75).

Metode tes ini digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dengan alat pengumpul data berupa butir-butir tes yang sesuai dengan pokok bahasan yang sudah diajarkan.

6. Metode Analisis Data

Setelah semua data sudah didapat maka peneliti akan melakukan analisis data secara analisis statistik deskriftif  dan metode analisis deskriptif kuantitatif sebagai berikut :

  1. Metode Analisis Statistik Deskriptif

Metode analisis statistik deskriptif yaitu : suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan rumus-rumus seperti distribusi frekuensi, grafik, mean, median, strandar deviasi untuk menggambarkan suatu obyek atau variable tertentu sehingga diperoleh kesimpulan umum ( A.A. Gede Agung, 1999 : 76).

 

a.       Tabel Distribusi Frekuensi

Data yang telah terkumpul di olah dan disajikan ke dalam table distribusi frekuensi dengan menentukan kelas interval terlebih dahulu, dengan cara menghitung rentangan (R) dengan rumus :

R = Xt –Xr

Jika hasilnya < 15, maka dibuat tabel distribusi frekuensi dengan data tunggal.

Sedangkan jika R >15, maka di gunakan tabel distribusi frekuensi dengan data bergolong.

Contoh tabel distribusi frekuensi

Distribusi Frekuensi Tingkat Hasil Belajar

Skor X F Fk Fx

( Nurkancana, 1986 : 145)

Keterangan :

X   : Skor                                       Fk        : Frekuensi komulatif

F    : Frekuensi                               Fx        : Frekuensi x skor

Adapun rumus-rumus yang dipergumakan dalam analisis statistik deskriftif yaitu :

b.      Menghitung Mean ( Rata-rata)

Σfx

M =                      ( Sujana, 1975 : 38)

N

Keterangan :

M         : Rata-rata

Σfx     : Jumlah skor seluruh siswa

N         :  Jumlah siswa

c.       Menghitung Median (Me)

Untuk menghitung Median yang datanya tunggal menggunakan skor yang mengandung frekuensi komulatif setengah N. Median adalah skor yang membatasi 50% distribusi sebelah bawah.

Untuk menghitung median datanya bergolong di gunakan rumus :

½ N – fkb

Me =  B-:    ──────                  ( Sutrisno, 1997 : 44)

fm

Keterangan  :

Me       : Median

B         : Batas Bawah

I           : Panjang interval

N         : Banyak data

Fkb      : Frekuensi komulatif bawah median

Fm       : Frekuensi pada daerah median

d.      Menghitung Modus

Untuk menghitung modus jika datanya tunggal adalah skor yang memiliki frekuensi tinggi.

Untuk menghitung modus yang datanya bergolong digunakan rumus :

b1

Mo = B + i  ─────                     ( Sujana, 1975: 43)

b1 + b2

Keterangan :

B         : Batas kelas bawah interval Modus

I           : Kelas interval

b1        : Frekuensi Mo- frekuensi kelas interval yang lebih rendah

b2        : Frekuensi Mo- frekuensi kelas interval yang lebih tinggi

  1. Metode Analisis Statistik Deskriptif Kuantitatif

Metode analisis statistik deskriptif kuantitatif adalah : suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematik dalambentuk angka-angka atau presentase mengenai suatu objek sehingga diperoleh kesimpulan umum ( A.A. Gede Agung, 1996 : 76).

Metode ini digunakan untuk menentukan tinggkat hasil belajar yang dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala 5.

a.       Menghitung Hasil Belajar

Untuk menghitung tingkat hasil belajar digunakan rumus :

M

M ( % ) =     ─── x 100 % ……………………….( A.A. Agung, 1997 : 78 )

SMI

Keterangan :

M ( % )            = Rata – rata Persen

M                     = Rata – rata Skor (Mean)

SMI                 = Skor Maksimal Ideal

b.      Konversi Kreteria PAP Skala 5

Kreteria PAP Skala 5 Tingkat Hasil Belajar Siswa

PERSENTASE KRITERIA
90-10080-89

65-79

55-64

0-54

Sangat BaikBaik

Cukup Baik

Kurang Baik

Sangat Kurang Baik

(A.A. Gede Agung, 1997 : 76).

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A. A. Gede, 1997. Pengantar Evaluasi Pengajaran, Singaraja : STKIP. …………….1999. Metodologi Penelitian Pendidikan, Singaraja : STKIP Singaraja.

Ali, H. Mohamad, 1992. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru.

Dimyati dan Moedjono, 1992/1993. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Depdikbud.

Hadiat, 2001. Alam Sekitar Kita 4. IPA Untuk Sekolah Dasar Kelas 6, Jakarta : Depdikbud.

Ibrahim dan Nana Syahodih, 1992/ 1993. Perencanaan Pengajaran Depdikbud.

Roestyah, N. K, 1991. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Reneka Cipta.

Rusyan Tabarin, 1993. Proses Belajar Mengajar Yang Efektif tingkat Pendidikan Dasar, Bandung : Bina Budhaya.

Sadia I Wayan, 1998. Penelitian Tingkat Konsep Dasar dan Penerapan (terjemahan), Singaraja : STKIP Singaraja.

Sadiman, Arif S., 1990. Media Pendidikan, Jakarta : Raya Grafindo Persada.

Soeharto, Karni, 1995.Teknologi Pembelajaran, Surabaya : Intelek Club.

Soetomo, 1993. Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar, Surabaya : Usaha Nasional.

Sujana Nana dan Ahmad Rivai, 1991. Media Pengajaran, Bandung : Sinar Baru.

Suryabrata, Soemadi, 1981. Psikologi Pendidikan, Bandung : Angka

 

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI

 

 

 

 

 

Penerapan metode tugas dan latihan untuk meningkatkan hasil belajar IPS Bagi Siswa kelas IV semester I SD Negeri Munduk Bestala Tahun 2009/2010


A. Judul Penelitian:

Penerapan  metode tugas dan latihan untuk meningkatkan hasil belajar IPS Bagi Siswa kelas IV semester I SD Negeri Munduk Bestala Tahun  2009/2010

B. Latar Belakang Masalah

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003, Bab II pasal 3 disebutkan bahwa ;

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Undang-Undang RI No.20 tahun 2003: 3)

Berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional tersebut di atas, maka sangatlah diperlukan peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Hal ini dikarenakan kualitas sumber daya manusia  merupakan kekuatan utama dalam menggerakkan roda pembangunan. Sejalan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan menyiapkan peserta didik dalam sistem persekolahan, maka peserta didik perlu dibantu dalam memecahkan masalah belajar. Guru diharapkan dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah tersebut agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan

Perhatian guru hendaknya ditujukan kepada  usaha menciptakan kondisi belajar yang kondusif, sehingga merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru merupakan salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap murid, karena guru merupakan ujung tombak tercapainya tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan ini akan dapat tercapai dengan baik apabila metode mengajar yang dipilih dapat diterapkan dengan sungguh-sungguh dan siswa lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan, siswa lebih bergairah serta senang dalam belajar. Diantara berbagai metode yang ada, peneliti memilih metode tugas dan latihan untuk digunakan dalam penelitian tindakan kelas.

Dari observasi awal peneliti, menunjukkan bahwa dewasa ini para guru Sekolah Dasar belum sepenuhnya memahami penerapan metode tugas dan latihan dengan baik. Keluhan-keluhan guru sering terlontar karena hanya masalah kekurangan waktu, sedangkan materi pelajaran masih banyak khususnya di SD Negeri Munduk Bestala tempat kami mengadakan penelitian. Hal ini akan berdampak juga terhadap  hasil belajar siswa, guru jarang memberikan tugas dan latihan karena harus dituntut untuk menghabiskan materi pelajaran. Hasil observasi menunjukan bahwa nilai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IV Semester I SD Negeri  Munduk Bestala rendah dengan angka rata-rata 5 (lima). Hal ini kiranya tidak perlu terjadi karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar, salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode tugas dan latihan dengan baik.

Pada akhirnya, peneliti berharap dengan diterapkannya metode tugas dan latihan bisa membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila  masalah tersebut telah dapat dipecahkan, diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat sesuai dengan harapan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai, khususnya bagi siswa kelas IV   Semester I SD Negeri Munduk Bestala pada tahun 2009/2010.

C. Perumusan Masalah

Atas dasar latar belakang masalah tersebut, maka dapat diajukan perumusan masalah sebagai berikut :

“Apakah terdapat peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan metode tugas dan latihan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD Negeri Munduk Bestala  2009/2010?”.

 

 

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang diungkapkan, maka tujuan penelitian yang dilakukan adalah :

“Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan metode tugas dan latihan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD  Negeri Munduk Bestala”.

E. Manfaat Penelitian

Setelah diadakan penelitian, di harapkan agar hasil penelitian ini bermanfaat sebagai berikut :

a.       Bagi guru dapat termotivasi untuk mengajar, dengan cara ini proses belajar mengajar berjalan dengan baik sehingga dapat memperjelas konsep serta dapat meningkatkan professional guru

b.      Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar terutama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas IV Semester I SD Negeri Munduk Bestala.

c.       Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi berharga terutama dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa

d.      Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur dalam langkah-langkah melakukan penelitian selanjutnya.

F. Kajian Pustaka

1. Metode Mengajar

  1. Pengertian Metode Mengajar

A.A. Gede Agung (1999 : 1) mengatakan “metode berasal dari kata methodos. Secara etimologis metodos berasal dari  kata metha artinya dilalui dan thodos artinya jalan. Metode adalah jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan”.

Metode merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Di dalam dunia pendidikan terdapat berbagai jenis metode yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan di dalam kegiatan belajar mengajar

“Metode mengajar adalah kegiaran guru untuk mencapai tujuan tertentu” (Nasution, 1982 : 43). Dalam proses pembelajaran guru melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang  telah ditetapkan. Pendapat tersebut juga didukung oleh Syaiful Bahri Djamalah dan Aswan Zain (1995 : 53) yang mengatakan bahwa metode mengajar adalah ”strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan”.

Menurut Nana Sudjana (1989 : 76) metode mengajar adalah “cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran” Guru dan siswa mengadakan hubungan pada saat pembelajaran. Hendaknya guru menggunakan cara-cara yang tepat supaya terjadi hubungan yang kondusif sehingga tujuan tercapai.

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah suatu cara yang harus ditempuh atau dilalui di dalam menyampaikan suatu materi untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu situasi pendidikan atau pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Wujud interaksi pengajaran melalui beberapa pendekatan menghendaki adanya pertimbangan yang kuat atas keunikan dan keragaman peserta didik. Seorang  guru sudah barang tentu dituntut kemampuannya untuk menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi. Metode mengajar merupakan cara-cara yang ditempuh guru unuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan.

  1. Jenis-Jenis Metode Mengajar

Jenis-jenis metode mengajar menurut Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain (1995 : 93) adalah 1) Metode Proyek yaitu metode pengajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah dan dipecahkan secara keseluruhan dan bermakna, 2) metode eksprimen yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 3) metode tugas, yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 4) metode diskusi yaitu memberian pertanyaan problematic kepada siswa untuk dibahas dan dipecahkan bersama, 5) metode sosiodrama yang dilakukan dengan cara mendramatisasikan  tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial, 6) metode demonstrasi yaitu cara penyajian pelajaran dengan cara meragakan kepada siswa tentang suatu proses disertai penjelasan lisan, 7) metode problem solving dimana siswa mencari jalan keluar dari suatu masalah, 8) metode karyawisata dengan mengajak siswa meninjau obyek tertentu, 9) metode tanya jawab dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, 10) metode latihan yang digunakan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, 11) metode ceramah yang digunakan untuk menyampaikan keterangan/informasi/uraian tentang sesuatu secara lisan.

Nana Sudjana (1987 : 76) menambahkan lagi 5 jenis metode mengajar yaitu 1) metode simulasi yang dilakukan melalui perbuatan yang bersifat pura-pura, 2) metode survai masyarakat yaitu cara memperoleh informasi dengan jalan observasi dan komunikasi langsung, 3) metode piersource person (manusia sumber) yaitu dengan mendatangkan orang luar yang mempunyai keahlian sumber, 4) metode sistem regu yaitu cara mengajar dimana sebuah kelompok siswa diajar oleh 2 orang guru atau lebih, 5) metode kerja kelompok yaitu guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara berkelompok.

“Diantara sekian banyak metode mengajar yang dikenal guru, ada 10 metode mengajar yaitu “metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok pemberian tugas, demonstrasi, ekperimen, simulasi, inkuiri dan metode pengajaran unit/ pembelajaran teroadu” (Mulyani Sumantri dan Johan Permana, 1998/1999 : 134).

Dari beberapa jenis metode tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan akan dapat tercapai dengan baik sangatlah tergantung pada tepat tidaknya guru tersebut menggunakan metode pada mata pelajaran tertentu. Tujuan-tujuan pendidikan pembelajaran dan jenis mata pelajaran menentukan metode apa sebaiknya digunakan. Setiap mata pelajaran tertentu mempunyai metode tertentu sesuai dengan kekhususan mata pelajaran tersebut. Oleh sebab itu guru hendaknya dapat menentukan metode apa yang paling efisien bagi pelajarannya sehingga tujuan pengajaran tercapai secara baik

Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun metode yang dapat dianggap lebih sempurna dari pada yang lain. Masing-masing metode memunyai keunggulan dan kekurangannya. Karena itu dalam proses pembelajaran dapat digunakan lebih dari satu metode. Dalam penelitian ini metode yang dikaji dibatasi hanya pada metode tugas dan latihan.

 

d. Metode Tugas dan Latihan

1.      Metode Tugas

Metode ini sangat cocok diberikan untuk mengimbangi bahan pelajaran yang sangat banyak  sementara waktu sedikit.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 96) mengatakan bahwa “metode tugas adalah cara penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar bisa melakukan kegiatan belajar”. Masalah tugas yang dilakukan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah di perpustakaan, di bengkel, di Laboratorium, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.

Tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara berkelompok

Tugas yang dapat diberikan kepada anak didik ada berbagai jenis, karena itu tugas sangat banyak macamnya, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun laporan (lisan/tulisan), tugas di laboratorium dan lain-lain. Menurut Nana Sudjana (1987 : 81) mengatakan ada beberapa langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas yaitu :

a.       Fase Pemberian Tugas

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbang-kan

1.      Tujuan yang akan dicapai

2.      Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebt

3.      Sesuai dengan kemampuan siswa

4.      Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa

5.      Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut

 

b.      Langkah Pelaksanaan Tugas

1.      Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru

2.      Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja

3.      Diusahakan / dikerjakan oleh siswa sendiri tidak menyuruh orang lain

4.      Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik

 

c.       Mempertanggungjawabkan tugas

Hal yang harus dikerjakan adalah :

1.      Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apad yang telah dikerjakannya

2.      Ada Tanya jawab/diskusi kelas

3.      Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 98) mengatakan metode tugas mempunyai kelebihan dan kekurangan adalah sebagai berikut :

1.      Kelebihannya :

a.       Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual/ kelompok

b.      Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar penugasan guru

c.       Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa

d.      Dapat mengembangkan kreativitas siswa

2.      Kekuranganya

a.       Siswa sulit dikontrol apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain

b.      Khusus untuk tugas kelompok yang aktif mengerjakan dan menyelesaian adalah anggota tertentu saja. Sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik

c.       Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa

d.      Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa

Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode tugas tersebut, bila dikaitkan dengan   hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode tugas akan bisa membangkitkan semangat belajar siswa, mandiri, bertanggung jawab dan penuh kreatif, hal ini akan bisa memcapai hasil belajar yang baik. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999 :151) mengatakan ”metode tugas mempunyai kekuatan dan keterbatasan, yaitu sebagai berikut”.

1.      Kekuatan metode tugas :

a.       Membuat peserta didik aktif belajar

b.      Merangsang peserta didik belajar lebih banyak, baik dekat dengan guru maupun pada saat jauh dari guru di dalam sekolah maupun di luar sekolah

c.       Mengembangkan kemandirian peserta didik

d.      Lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari

e.       Membina kebiasaan peserta didik untuk mencari mengolah sendiri informasi dan komunikasi

f.       Membuat peserta didik dan bergairah belajar karena dapat dilakukan dengan bervariasi

g.      Membina tanggung jawab dan disiplin siswa

h.      Mengembangkan kreativitas peserta didik

2.      Keterbatasan metode tugas

a.       Sulit mengontrol peserta didik apakah belajar sendiri atau dikerjakan orang lain

b.      Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik

c.       Tugas yang monoton dapat membosankan peserta didik

d.      Tugas yang banyak sering dapat membuat beban dan keluhan peserda didik

e.       Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tertentu atau peserta didik yang rajin dan pintar.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penggunaan metode penugasan adalah untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok

Setelah Tanya jawab atau ceramah diketahui bahan-bahan yang perlu mendapatkan penekanan dan harus dikuasai peserta didik oleh karena itu guru memberikan tugas dengan alasan agar peserta didik dapat belajar sendiri atau berkelompok mencari pengayaan atau sebagai tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Metode penugasan menjadi salah satu cara penyampaian pengajaran untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban-jawaban atau tugas yang diberikan guru.

2. Metode Latihan

Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar  yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.

Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan.

Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan  ini kiranya tidak salah bila memahami karakteritik metode ini

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 108) mengatakan kelebihan dan kekurangan metode latihan adalah sebagai berikut :

a.       Kelebihan Metode Latihan

1.      Untuk memperoleh kecakapan motoris seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat dan terampil menggunakan alat olahraga

2.      Untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda dll.

3.      Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol membaca peta dan sebagainya

4.      Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah  ketepatan serta kecepatan pelaksanaan

5.      Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya

6.      Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang komplek, rumit, menjadi lebih otomatis

b.      Kelemahan Metode Latihan

1.      Menghambat bakat dan inisiatif siswa karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian

2.      Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan

3.      Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah dan membosankan

4.      Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis

5.      Dapat menimbulkan verbalisme

Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode latihan tersebut , bila dikaitkan dengan keaktifan dan hasil belajar siswa sangatlah mendukung. Dengan metode  latihan akan tertanam kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri siswa.

3.      Penerapan Metode Tugas dan Latihan

Penggunaan metode tugas biasanya diberikan pada saat guru selesai memberikan materi pelajaran kepada siswa, ada kalanya timbul suatu persoalan/ masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya penjelasan secara lisan melalui ceramah. Untuk itu guru perlu menggunakan metode tugas sebagai jalan keluarnya baik tugas-tugas individu maupun tugas kelompok, sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik.

2. Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Untuk memperjelas pemahaman tentang hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial maka akan dibahas mengenai : a. Pengertian hasil belajar ilmu pengetahuan sosial, b. Faktor-faktor yang mepengaruhi hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial, c. Ciri-ciri hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

a.       Pengertian Hasil Beajar ilmu Pengetahuan Sosial

Kata hasil mempunyai arti “pendapatan atau perolehan” (W.J.S Poerwadarminta. 1994 : 384). Dalam penelitian ini hasil diartikan sebagai pendapatan atau perolehan dari seseorang dengan menunjukkan kecakapan dan kemampuannya. Hasil belajar ini biasanya ditunjukkan melalui perolehan nilai, keterrampilan, prilaku dan lain sebagainya.

Ilmu Pengetahuan sosial adalah “ pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasari pada bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata Negara dan sejarah” (Depdikbud, 1993 : 151)

Dengan demikian hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial mengandung pengertian sebagai pendapatan atau perolehan berupa kecakapan dan kemampuan terhadap ruang lingkup pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

b.      Ciri-ciri Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial

Dalam GBPP Ilmu Pengetahuan Sosial (1994 : 150) disebutkan ciri-ciri hasil belajar IPS sebagai berikut.

1.      Mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari memiliki kemampuan mengembangkan pemahaman tentang rasa kebangsaan.

2.      Memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air.

Ciri-ciri belajar Ilmu Pengetahuan Sosial yang lain, secara implicit tercermin dalam tujuan khusus pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang meliputi penguasaan dan kemampuan siswa tentang berbagai hal seperti :

1.      Mampu memahami hubungan antara manusia dengan lingkungan budayanya.

2.      Mampu memahami peristiwa-peristiwa serta perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya.

3.      Mampu mengenal kebutuhan-kebutuhannya serta menyadari bahwa manusia lainnya memiliki kebutuhan.

4.      Menghargai budaya masyarakat sekitarnya, bangsa an juga budaya bangsa lain.

5.      Dapat menerapkan prinsip-prinsip ekonomi yang bertalian dengan dirinya sendiri.

6.      Mempunyai tanggung jawab dalam pemeliharaan dan pengelolaan sumber daya manusia dan alam.

7.      Mampu menghargai sejarah bangsanya serta hak-haknya sebagai manusia yang hidup di suatu Negara yang merdeka (Depdikbud, 1993/1994 : 2).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan apabila mampu menunjukkan sikap atau prilaku seperti yang diuraikan di atas, itulah hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimiliki siswa. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Richard Clark (1981 : 12) bahwa : hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan”.

Adanya faktor pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang disadarinya. Kualitas pengajaran juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

G. Kerangka Berpikir

Sesuai kajian pustaka yang telah diuraikan di atas, selanjutnya dapat diajukan kerangka berpikir sebagai berikut :

a.       Metode tugas dan latihan yang merupakan dua diantara sekian banyak metode yang ada sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk menghindari kekurangan waktu dalam proses belajar mengajar.

b.      Melalui metode tugas dan latihan siswa akan dapat lebih memahami suatu proses, karena siswa dirangsang untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok. Dengan aktif belajar sendiri akan dapat tertanam kebiasaan-kebiasaan positif baik dalam ketangkasan, ketetapan, kesempatan dan keterampilan, sehingga berpengaruh pada peningkatan hasil belajar.

H. Hipotesis Tindakan

Jika penerapan metode tugas dan latihan dapat berjalan dengan baik, maka hasil belajar siswa dalam Ilmu Pengetahuan sosial  akan cenderung meningkat.

UNTUK LEBIH JELAS DAN LENGKAP SILAHKAN DOWNLOAD FILE DI SINI

Metode Pengumpulan Data


Metode Pengumpulan Data

Adapun metode yang digunakan dalam menyusun laporan ini adalah sebagai berikut :

a.   Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dilaksanakan melaui pengamatan secara langsung seluruh kegiatan yang dilaksanakan di SD LAB Singaraja

b.   Metode Wawancara (Interview)

Metode wawancara adalah suatu metode pengumpulan data yang dilaksankan melalui wawancara baik terhadap kepala sekolah, guru, pegawai dan siswa untuk mengetahui keadaan sekolah tersebut.

c.    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data diperoleh dengan diskusi-diskusi atau pertukaran informasi yang disertai analisis dan argumentasi untuk memperoleh kebenaran data dan informasi.

SILAHKAN DOWNLOAD FILE DISINI